Arsip 12


PENGALAMANKU
From: ----edit----- <--------@---.net.id>
Date: Mon, 16 Mar 1998 07:14:23 -0800


Best story Ini benar-benar kisah nyata terjadi pada diriku. Aku menulis cerita ini hanya karena ingin input dari para pembaca. Peristiwanya terjadi beberapa tahun yang lalu, waktu itu aku masih kuliah tingkat-tingkat awal di Jakarta. Dalam kesempatan liburan, aku pergi menemui saudaraku di kota Bandung. Secara tidak sengaja aku berkenalan dengan seorang wanita berumur (waktu itu) sekitar 26-27 tahun, sedangkan aku (waktu itu) awal 20-an. Kami berkenalan di atas kendaraan umum (angkot). Sebut saja namanya Eva (nama samaran). Karena aku tidak punya acara khusus, aku ikut saja waktu diajak jalan-jalan nonton. Setelah itu kami berpisah dan ia sempat memberiku alamat.
Kemudian aku kembali ke Jakarta. Aku mengirimi dia surat tapi tak satu pun yang dibalas. Di Jakarta aku sendiri kost (ortuku di kota lain) jadi sering berpindah-pindah juga. Selama bertahun-tahun kami tidak pernah kontak lagi bahkan lewat surat sekalipun. Akhirnya aku mengirim surat lagi entah keberapa kali, kuberikan alamat kostku yang baru lengkap dengan nomor telepon. Tidak dijawab. Baru kemudian suatu hari Mbak Eva meneleponku, katanya dia sekarang bekerja di Jakarta. Itu terjadi 4-5 tahun setelah perjumpaan kami yang pertama !!!!
Kemudian Mbak Eva memberiku alamat kost dia di daerah Kota. Aku sudah selesai kuliah saat itu dan bekerja di sebuah perusahaan swasta. Pada suatu hari minggu aku cari alamat kostnya dan ketemu ! Tempat kostnya sangat lengang, rapi dan berAC. Aku tidak tahu apa pekerjaannya. Waktu aku ke sana ia sedang mandi jadi aku tunggu di ruang tamu. Akhirnya dia muncul!! Wajahnya sama seperti dulu, tinggi, cantik, putih, matanya kecoklatan, badannya pas sekali. Ia memakai baju handuk panjang. Aku hampir-hampir tidak mengenalinya. Singkatnya ia mengajakku ke kamarnya karena lebih enak ngobrol disana katanya. Terus terang aku grogi. Tapi kami hanya ngobrol saja. Sikapnya seperti seorang kakak terhadap adiknya.
Di kamarnya itu hanya ada satu kursi rias, jadi aku duduk di tepi tempat tidur. Dia pun akhirnya mengikutiku duduk di sana. Kami bertukar cerita kemana saja selama ini. Secara tiba-tiba Mbak Eva mengecup bibirku, aku kaget setengah mati, tidak menyangka ia akan melakukan itu terhadapku. Ia mendorongku untuk berbaring sambil mulai membukai pakaianku dan menciumi setiap inchi tubuhku. Anehnya aku diam saja walaupun ketakutan. Setelah itu ia membuka baju handuknya dan ia tidak mengenakan apapun. Aku masih berbaring tidak tahu harus bagaimana. Kemudian ia merebahkan tubuhnya di atas tubuhku sambil menyuruhku menciumi tubuhnya. Ia bergerak pelan-pelan ke atas hingga bibirku yang ada di bawah (aku selalu berbaring) otomatis mengikuti arah ia menggerakkan tubuhnya, dari bibir, dada terus hingga berhenti di selangkangannya.
Terus terang aku tidak ingin menceritakan secara detil karena pasti akan vulgar, dan aku pun tidak pandai merumuskannya kembali. Singkatnya, seharian itu aku benar-benar "dikerjain" dan ia tidak memberi kesempatan sedikitpun buatku untuk berada di atas. Ia bergerak dan terus bergerak, sementara aku dibiarkannya menggelepar-gelepar kehilangan keperjakaanku. Hari sudah sore dan kami "selesai". Aku pulang. Sejak itu aku beberapa kali mampir ke kostnya tapi tidak pernah mengulangi lagi. Pertama karena aku trauma, kedua karena tempat kostnya kebetulan sedang ramai (penuh) jadi tidak mungkin masuk ke kamarnya. Mbak Eva pun tidak pernah lagi menyinggung soal itu, hubungan kami baik sekali seperti kakak-adik. Beberapa bulan kemudian dia cerita bahwa dia kini sudah punya pacar dan harus pindah dari tempat kostnya. Kemudian ia pindah. Saat ini aku kehilangan jejak. Entah ia ada di mana, rumahnya di Bandung pun tidak dihuni lagi. Sekarang aku tidak pernah lagi mendengar tentangnya.

Aku ingin menekankan keadaanku sekarang. Sejak itu rasanya aku tidak bisa melupakan pengalamanku dan melupakan Mbak Eva. It must have been love, but it's over now, kata sebuah lagu. Selain itu aku jadi susah untuk fallin' in love lagi. Bayanganku selalu pada wanita yang beberapa tahun usianya di atasku, anggun, tenang, berwibawa, tapi bisa tiba-tiba wild dan mengerjai aku dari atas. Aku tahu bahwa keadaan psikologisku ini tentunya tidak sehat. Bagaimanapun aku harus melupakannya, tidak boleh murung dan mencoba untuk "sembuh" serta mau mendekati wanita lain. Saat ini aku sudah bekerja dengan baik, dengan penghasilan yang cukup. Rasanya tidak ada yang berubah dalam diriku, kecuali dampak kejiwaan dari peristiwa itu, beberapa jam yang menegangkan dalam hidupku.

Cerita ini NYATA, maaf kalau mengecewakan pembaca yang lebih mengingingkan uraian-uraian seru. Aku membuka diri terhadap siapa saja yang ingin membantu melepaskan aku dari bayang-bayang ini, dengan bertukar cerita, wawasan, jalan keluar atau bahkan nasihat yang baik buatku. Aku bisa dikirimi email di Wirawira@hotmail.com Terima kasih sebelumnya atas itikad Anda, apapun itu.


IBU GURU YANG NAKAL (3)
From: "--edit--" <--edit---@hotmail.com>
Date: Sat, 14 Mar 1998 10:50:42 PST


Rina masih tergolek kelelahan di tempat tidur. Rambutnya yang hitam panjang menutupi bantalnya, dadanya yang indah naik-turun mengikuti irama nafasnya. Sementara itu memeknya sangat becek, berlepotan mani Reza dan maninya sendiri. Reza juga telajang bulat, ia duduk di tepi twmpat tidur mengamati tubuh gurunya itu. Ia kemudian duduk mendekat, tangannya meraba-raba liang memek Rina, kemudian dipermainkannya pentil klitoris gurunya itu.
"Mmmmm capek .mmmm" bibir Rina mendesah saat pentilnya dipermaikan. Sebenarnya ia sangat lelah, tapi perasaan terangsang yang ada di dalam dirinya mulai muncul lagi. Dibukanya kakinya lebar-lebar sehingga memberikan kemudahan bagi Reza untuk memainkan itilnya.
"Rezz aahhhh ." Tubuh Rina bergetar, menggelinjang-gelinjang saat Reza mempercepat permainan tangannya.
"Bu, balik .Reza pengin nih .."
"Nakal kamu ahh .." dengan tersenyum nakal, Rina bangkit dan menungging. Tangannya memegang kayu dipan tempat tidurnya. Matanya terpejam menanti sodokan kontol Reza. Reza meraih payudara Rina dari belakang dan mencengkeramya denga keras saat ia menyodokkan penisnya yang sudah tegang
"Adduuuuhhhh ..owwwwwmmmmm .." Rina mengaduh kemudian menggigit bibirnya, saat lubang memeknnya yang telah licin melebar karena desakan kontol Reza.
"Bu Rina enak lho memek Ibu .ketat " Reza memuji sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.
"Mmmmm aahhh ahhhh ..ahhhhhhkkk" Rina tidak bisa bertahan untuk hanya mendesah. Ia berteriak lirih seiring gerankan Reza. Badannya digerakkannya untuk mengimbangi serangan Reza. Kenikmatan ia peroleh juga dari remasa muridnya itu.
" Ayooo .aahhhhh ahhhhh .mmm .buat ibu keluuuaa ..rrrr lagi.." gerakan Rina makin cepat menerima sodokan Reza.
Tangan Reza beralih memegangi tubuh Rina, diangkatnya gurunya itu sehingga posisinya tidak lagi "doggy style", melainkan kini Rina menduduki kontolnya dengan membelaki dirinya. Reza kini terlentang di tempat tidur yg acak2an dan penuh oleh mani yg mengering.
"Oooowwwwwww ." Teriakan Rina terdengar keras saat ia tidak bisa lagi menahan orgasmenya. Tangannya mencengkeram tangan Reza, kepalanya mendongak menikmati kenikmatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sementara Reza sendiri tetap menusuk-nusukkan kontolnya ke memek Rina yg makin becek.
"Ayoo .makin dalam dalammmmm ."
"Ahhh .aahhhhhh ..aaa hhhhhh.." Rezapun mulai berteriak-teriak.
"Mau kelluuuuaaa .rrrrrrrrrrrrrr "
" .." Rina sekali lagi memejamkan matanya, saat mani Reza menyemprot dalam liang memeknya. Rina kemuidan ambruk menidih tubuh Reza yang basah oleh peluh. Sementara diantara kaki-kaki mereka mengalir cairan hangat hasil kenikmatan mereka..
"Bu Rina .. sungguh luar biasa . Coba kalau Anto ada disini sekarang "
"mmmm memangnya kamu mau apa ." Rina kemudian merebahkan dirinya di samping Reza. Tangannya mengusap-usap pentil Reza.
" Kita bisa main bertiga bu, pasti lebih nikmat .."
Rina tidak bisa menjawab komentar Agus, sementara perasaannya dipenuhi kebingungan.

(bersambung ?)
Rina


SEX PERTAMA DENGAN SODARA SENDIRI
From: "----edit-----" <------@hotmail.com>
Date: Fri, 13 Mar 1998 06:45:23 PST


Gua seorang penggemar cerita-cerita Seru™. Kali ini gua iseng mo ngirim cerita gue asli pengalaman sendiri.

Gua punya kebiasaan coli sama seperti cowo temen temen gua. Tapi sebagai perangsang gua nggak hanya make buku apa film bokep tapi juga orang. Soalnya sodara gua banyak yang cewe plus cakep-cakep masih SMP bodinya jadi. Karena rumah gua yang gede sodara gua ( terutama yang cewe ) sering nginep, nah waktu itu yang gua demen . Biasanya malem-malem gua naek ke kamar tamu, dan mengendap-ngendap. Gua naek ke atas ranjang dan mulai aksi gua dengan pegang-pegang bodi sodara gue sambil ngocok. Nggak jarang sodara gue tidur nyenyak banget sehingga gua bisa ngobel-ngobel memeknya.
Nah, kebetulan minggu lalu pas libur Sidang Umum sodara gua nginep. Ada satu sodara cewe gua yang asli cakep namanya Joyce. Gua kepengen bener ngobel memek dia tapi nggak dapet, soalnya dia baru kepegang paha aja udah sadar. Tapi ni malem laen, gua mulai petualangan gue lagi. Gua naek ke kamar atas, terlihat si joyce tidur dengan posisi asli napsuin. Ngadep atas ( terlentang ) kaki rada ngengkang. Darah gua udah berdesir aja. Gua mulai naek ke atas ranjang. ternyata dia make celana longgar. perlahan lahan gua mulai narik celananya ke bawah. dan ngintip ke dalem. Keliatan CD-nya. gua udah mo masukin tangan aja. Tapi gua takut dia bangun. Tapi, lama-lama gua nggak tahan juga. Gua masukin tangan gua, wah dia diem aja. Gua masuk lebih dalem lagi. Nyentuh CD-nya. Gua mulai deh mo narik CD-nya. Tangan gua satu lagi ngocok-ngocok kontol gue. Tau-tau dia bagun en' ngeliat gua lagi megangin kontol gua. Wah, gua kaget n' buru-buru kabur sambil berharap dia ngelupain dan dikira mimpi. Gua mo tidur lagi, "sialan" dalem hati gua. gua belum klimaks nih. Akhirnya gua tidur juga. Eh, malemnya gua ngerasa ada yang megang tubuh gua. Gua bangun , ternyata si joyce lagi megangin kontol gua sambil tangannya masuk ke dalem CD-nya.Astaga, dia kaget juga, tapi trus ngomong
"Dengan ini kita seri ya ? "
trus' dia mo pergi.Menyadari gelagat asik ini gua langsung ngomong
"Eh jangan pergi "
trus dia nanya " Emang kenapa loe marah ? "
"Nggak kok, loe demen pegangin barang gua, gua kepenget liat barang loe gimana kalo kita tukeran ? "
Dia diem bentar trus ngomong " Yang bener ? "
" Iya "
" Ya udah dech, tapi loe duluan ya ? "
Trus gua pun narik celana gua yang longgar ( maklum pijama ) en' terlihatlah kontol gua yang asli ngaceng. ( kontol gua 12 cm diameter 4 cm ). lumayan buat anak 16 taon. Dia keliatan seneng ditambah horny.
" Boleh gua pegang ? "
"Loe mo apain juga boleh asal jangan disakitin "
tangan dia bergerak perlahan gemeteran, dia megang kontol gua. Darah gua berdesir waktu tangannya nyentuh kontol gua. Baru sekali kontol gua dipegang dielus ama cewe. Tangan dia yang satunya megangin celana sendiri sambil sesekali ngegesek. Gua ngeliat tambah horny
" Eh, Joyce cukup donk, giliran elo "
" Nggak ah malu "
" Eh, loe udah janji, lagian cuma kita berdua kok "
"Ya udah "
Dia pun mulai memegang celana dia
" Eh, tunggu, boleh nggak gua yang buka ? "
Dia mikir trus bilang " boleh dech "
Tangan gua mulai memegang celana dia. trus gua gesek bagian memeknya dia diem aja. Trus gua perlahan-lahan narik celana dia turun, keliatan CD-nya putih. Terlihat di bgian memek agak basah, perlahan dari samping gua tarik CD-nya. tangan gua gemeter gila. Dia juga terlihat agak malu. Gua tarik ke samping, terlihat memeknya, jembutnya paling baru 5 lembar ( maklum baru 13 ).Gua buka dikit, bau amis campur pesing mulai menyebar.
"Boleh gua elus ? "
"Boleh "
Gua mulai ngelus memeknya, pas gua buka dikit, keliatan ada daging kecil di bagian atas, gua heran, gua toel.
"ahh, enak Di ! Lagi donk"
Tiba-tiba dia tereak gua kaget.
trus gua dapet ide
"Gimana kalo memek elo gua gesek pake kontol gua ? "
"Hah, jangan gua masi mau perawan "
"Tenang cuma luarnya doang gua jamin perawan elo nggak ilang "
"Bener ?"
"bener"
"ya udah "
trus CD dia gua tarik ke bawah, en' CD gua gua turunin sendiri. Gua suruh dia tiduran, trus gua tepetin kontol gua di atas memek dia ( Waktu itu gua udah takut ketahuan bokap )trus gua gesek naik turun
"Ahh enak Di, enak banget cepetan dikit Di "
Wah gua makin napsu aja gua gesek lagei, sementara memek dia makin banjir
"ahh terus di, clit gua donk diutamain "
"hah, apaan tuh clit ? "
"Itu daging kecil yang tadi loe pegang "
"ohh "
trus gua mulai nyari " clit " tersebut dan gua gesek pake palkon gue.
"Ahh enak Di terus Di "
Gua makin napsu aja, trus dia becanda ngomong gini
"Ahhh, uhhh, ini mah dimasukin lebih enak kali ya ?"
Gua yang napsu abis seneng bener denger gitu. Gua ambil koran trus gua alasin pantat dia
"Ngapain di ? "
Gua diem aja trus gua pelan-pelan cari lobang memek dia dan gua sodok masuk kontol gua.
"Ahhhh, jangan Di, adduuuuh sakit Di, please jangan ahhhh !!!"
Gua kasian juga gua tarik dikit. Trus gua sodok sekuat tenaga
"AAAhhhhhhhh sakit banget Di, aduhhh "
Gua cuek trus gua sodok dikit. Sambil megang toketnya gua bisa ngeliat dia nangis. Tapi gua cuek gua kayuh aja terus
"Ahh Di sakit Di, loe tega loe Di, pokonya perawan gue elo yang ambil"
Tapi lama -lma dia diem juga, dia mulai nikmatin malah
"Ahh, Ahhh , ohhh , terus enak juga, terussss "
Mungkin karena sama-sama baru nggak lebih dari 15 menit kita sama-sama klimaks, gue keluarin peju gua di dalem, asli enak banget.Setelah selesai, kita duduk senderan, koran tatakan tadi ada noda darah, darah perawan dia. Gua liat dia nangis sambil nyenderin pala ke dada gue.
"Ah, Di, loe ngambil perawan gue, gua nyesel, tapi enak kok, gue tapi nggak ngarep loe mo tanggung jawab, asal loe mo gini terus ama gue, lagian gua juga kok yang mulai"
"Nggak, apapun yang terjadi gua tanggung, setelah cukup umur loe bakal gua nikahin apapun resikonya"
"Bener ? "
"suer "
"Asikk, loe bae deh, laen kali gua mau lagi deh "
Sekian pengalaman gua dahh


NORMALKAH AKU?
From: -edit--@altavista.net
Date: Thu, 12 Mar 1998 23:04:13 -0500 (EST)


Best story

Aku adalah seorang wanita yang setia membaca Cerita-cerita Seru™. Bila dibandingkan dengan rekan kerja yang lain, aku termasuk beruntung karena dapat mengakses Internet sepuasnya sedang rekan kerja yang lain banyak yang menggunakan komputer hanya sebagai fasilitas kerja. Setiap ada waktu senggang, aku selalu menyempatkan diri melihat situs Cerita-cerita Seru™ dan aku tidak usah merasa khawatir karena ruangan kerja kami masing-masing dipartisi setinggi kurang lebih 130 cm.

Yang menjadi masalah, aku terlalu cepat mudah terangsang. Baru membaca satu menit saja kemaluanku sudah banjir. Aku sering membayangkan bercinta dengan pria kekar, ganteng, dan bermain agak kasar (tapi jangan sampai menyiksa seperti pada cerita "Bercinta di Kantor"). Bila nafsu itu sudah terlalu tinggi, aku akan pergi ke toilet lalu melakukan masturbasi di sana. Aku jarang menggunakan jari. Alat favoritku adalah pulpen yang berkepala bulat dan halus. Dengan pulpen itulah aku menggosok kepala clitoris (terletak tepat dibawah titik pertemuan labia minora) sampai orgasme. Dulu aku pernah menggunakan metode semprotan air, tapi sudah aku hentikan karena aku pernah membaca cara seperti ini dapat merusak selaput dara (hymen).

Pernah sekali waktu aku memasukkan satu jariku ke dalam lubang vagina dengan jari tengah tangan kananku. Herannya, aku saat itu tidak merasa sakit. Yang ada hanya rasa nikmat ketika ujung jariku menyentuh dinding vagina sebelah atas. Setelah masuk, aku menggerakkan jari tanganku maju mundur sambil membayangkan sedang bersenggama dengan pria idamanku. Ternyata dinding vagina tidak licin dan halus seperti lubang vagina sebelah luar. Bentuknya berkerut-kerut, agak keras dan bila aku berkontaksi, jariku dapat terjepit sangat kuat. Setiap gesekan rasanya nikmat sekali. Jantungku berdebar kencang dan nafasku mulai tidak teratur. Rasanya aku ingin berteriak tapi karena aku takut suaraku terdengar keluar, aku menahannya sambil merapatkan bibirku kuat-kuat. Setelah beberapa saat, aku benar-benar mencapai klimaks. Darah berdesir di seluruh tubuh. Buah dadaku beserta puting susunya mengeras. Semakin cepat dan keras dinding vagina kugosok semakin nikmat rasanya. Lalu tiba-tiba aku merasakan sesuatu hal yang sangat luar biasa. Seluruh otot tubuh rasanya mengejang kuat. Lubang vaginaku tiba-tiba mengkerut. Aku mengalami orgasme yang luar biasa. Belum pernah aku merasakan nikmat seperti ini bila aku bermasturbasi hanya dengan menggosok klitoris.

Setelah puas, aku baru sadar bahwa perbuatanku tadi bisa merusak selaput dara. Cepat-cepat aku mengambil tissue lalu menggosokkannya ke bibir vagina. Ternyata aku tidak melihat sedikitpun noda darah. Yang ada hanya cairan vagina berwarna putih lagi berbau (aku tidak tahan mencium baunya tapi mengapa banyak lelaki suka menghirupnya?). Apakah aku masih perawan? Sampai sekarang pertanyaan itu masih belum terjawab. Pernah aku berniat memeriksakannya ke bidan atau dokter tapi aku malu.

Akhir-akhir ini aku punya cara baru. Sebenarnya teknik ini tidak sengaja aku temukan. Saat sedang bekerja, aku merasakan hendak buang air kecil tapi karena sedang tanggung, aku menahannya sambil merapatkan kedua pahaku kuat-kuat. Ternyata aku mendapatkan kenikmatan tersendiri dengan cara seperti ini. Bila aku sudah tidak kuat menahan air kencing, aku menuju toilet lalu menggosok di sekitar lubang urethra (saluran kencing). Beberapa menit kemudian aku mendapat orgasme sambil mengeluarkan air seni. Nikmat sekali, dan rasanya berbeda bila aku mendapatkan orgasme dengan cara menggosok klitoris atau menggosok lubang vagina sebelah dalam.

Bila sedang tidak terangsang, timbul rasa penyesalan dalam diriku. Aku merasa sangat berdosa. Aku juga takut perbuatan itu bisa merusak tubuhku, atau setidaknya merusak selaput dara. Bagaimana bila dalam malam pertama nanti aku tidak mengeluarkan darah? Apa yang harus kukatakan pada suamiku? Aku benar-benar bingung.

Melalui Cerita-cerita Seru™ aku mohon pendapat dan saran dari pembaca sekalian (khususnya wanita). Sungguh, ini adalah pengalaman nyata. Jangan kirimi aku surat-surat iseng karena tidak akan aku tanggapi. Terima kasih buat Wiro atas pemuatan email ini. jayanti@altavista.net


SKOR SATU - SATU
From: "-------edit--------" <------@collegemail.com>
Date: Thu, 12 Mar 1998 16:10:14 +0700


Masih ingat cerita mengenai pengalaman saya saat digagahi oleh dua orang teman saya, Aria dan Albert dalam "REGINA". Nah pengalaman menarik saya yang sekarang ini adalah bagaimana saya membalas dendam kepada Aria. Dengan penuh rencana, saya berjalan memasuki rumah besar itu. Di tempat itulah keperawanan saya direnggut oleh dua orang teman saya. Saya tersenyum melihat siapa yang membukakan pintu dan mempersilakan saya masuk.

"Eh, Mbak Gina. Tumben sudah lama nggak main ke sini?"

"Ah, Rick, selama ini Mbak sibuk sekali, jadi nggak sempat main ke rumah kamu," kata saya
kepada bocah kecil berusia sepuluh tahun itu, lalu duduk di kursi sofa di ruang tamu itu. Melihat Ricky, demikian namanya, berdiri terus, saya tersenyum.
"Rick, sini kamu duduk di samping Mbak."
"Malu ah, Mbak."
"Jangan malu-malu dong, Rick. Sini..." kata saya sambil menarik tangannya.
"Bagaimana pendapat kamu tentang Mbak, Rick. Mbak cantik apa nggak?"
"Nggg..... Mbak cantik sekali, seperti yang ada di majalahnya Mas Aria."
Saya tersenyum senang mendengar jawabannya yang polos. Kemudian saya berdiri dan melucuti seluruh pakaian yang saya kenakan.
"Sekarang coba kamu lihat Mbak. Bagaimana pendapat kamu?"
"Idih, Mbak kok telanjang bulat sih. Ricky malu ah!" kata Ricky, mukanya memerah.
"Ricky saja cuma berani telanjang bulat kalau lagi dimandiin sama Mama," sambungnya.
"Nggak apa-apa kok Rick. Kan kita di sini cuma berdua. Nggak ada lagi yang melihat. Nah kalau yang ini kamu tahu nggak namanya?" tanya saya sambil menunjuk payudara saya.
"Ih, punya Mbak hampir sama dengan punya Mama. Cuma Mbak lebih besar.."
"Kamu sudah pernah memegangnya belum?"
"Dulu waktu Ricky kecil kan netek sama Mama."
"Sekarang kamu mau memegang punya Mbak nggak? Bandingin sama punya Mama kamu. Nih coba pegang!" kata saya sambil menarik tangan Ricky ke arah payudara saya.
Tangan saya membimbing tangan Ricky yang mungil menjelajahi payudara saya. Kubantu ia meremas-remas payudara saya yang kenyal. Puting susu saya yang kecoklatan itu mulai menegang.
"Rick, kamu bisa ngasih contoh nggak, seperti apa waktu kamu netek sama Mama kamu."
"Begini Mbak," katanya sambil mendekatkan mulutnya ke payudara saya. Ia mulai mengulumi dan menghisap-hisap puting susu saya yang tinggi itu.
"Tapi punya Mbak nggak bisa keluar susunya. Tapi enak juga kok Mbak rasanya."
"Aah... Ouhh... Rick teruskan..... Jangan berhenti....." kata saya sambil mengerinjal-gerinjal kecil. Sementara Ricky terus melahap puting susu saya yang semakin lama semakin mengeras. Persis seperti waktu ia menyusu pada ibunya dulu.
"Rick, coba sekarang kamu buka celana kamu," kata saya tak lama kemudian.
"Ah, nggak mau ah, malu!" kata Ricky sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu mau Mbak kasih tahu nggak caranya Papa sama Mama kamu bikin kamu dulu?"
"Memangnya Mbak Gina tahu?" tanya sang bocah keheranan.
"Makanya!"
Akhirnya Ricky menanggalkan celananya. Saya tertawa dalam hati. Betapa mungilnya batang kemaluannya.
"Nah, kamu tahu apa itu yang kamu punya?" saya bertanya sambil menunjuk batang kemaluan Ricky.
"Ini titit. Buat kencing!" katanya dengan lugu.
"Ada lagi! Bukan cuma buat kencing saja, tapi bisa juga buat bikin anak. Kamu juga dulu asalnya dari situ, Rick."
"Dari kencing?!" Jawaban Ricky yang polos itu membuat saya tertawa.
"Bukan, bukan! Tapi begini, pertama kali Mama kamu akan berbuat seperti ini pada Papa kamu," kata saya sambil mengelus-elus kemaluan Ricky.
"Ih, Mbak! Geli!"
Ricky menggoyangkan tubuhnya kegelian. Namun saya tidak mengindahkannya. Dengan segera saya memasukkan batang kemaluan mungil itu ke dalam mulut saya. Meskipun diliputi oleh rasa jijik, saya melumatnya. Saya hisap-hisap dan saya jilat-jilat ujung "meriam" kecil yang telah mulai menegang itu. Bocah lelaki itu mulai menggerinjal-gerinjal terangsang.
"Hsspp..... Bagaimana Rick? Enak?"
"Hhhhh..... Enak, Mbak, enak. Terusin dong, Mbak."
Dengan lidah saya gelitik batang kemaluannya dari ujung hingga pangkal, semakin membuat mata Ricky membelalak kenikmatan.
"Nah, itu baru pendahuluannya. Coba sekarang kamu jilatin punya Mbak.."
Tanpa berpikir panjang lagi, Ricky menjulurkan lidahnya, dan mulai menjilati liang kewanitaan saya. Saya menjerit kecil sewaktu daging kecil yang ada di dalamnya tersentuh oleh ujung lidah Ricky. Kenikmatan yang tiada taranya!
"Tapi bau, Mbak," kata Ricky ketika sudah puas merambahi vagina saya.
"Iya deh sudah. Sekarang yang terakhir.  Coba kamu berbaring."
Ricky segera berbaring di atas sofa, dan saya naik di atasnya. Dengan perlahan-lahan saya memasukkan batang kemaluan yang kecil itu ke dalam liang vagina saya. Lalu dengan gerakan sedikit memutar, saya menggerakkan pantat saya naik turun di atas batang kemaluan Ricky.
"Ooouuh..... Mbak Sandra..... Enak....." jerit Ricky merasakan kenikmatan yang bukan main.
Tidak begitu lama berselang, batang kemaluan Ricky menyemprotkan cairan putih encer yang membasahi kewanitaan saya. Ia sudah sampai pada klimaksnya. Sementara saya belum mencapai klimaks.
Saya suruh Ricky memasukkan jari-jari mungilnya ke dalam liang vagina. Masuk, keluar. Begitu berulang-ulang. Sehingga dengan menggerinjal keras akhirnya saya mencapai kepuasan. Dan saya telah berhasil menjalankan rencana saya tanpa adanya hambatan.
Baru saja saja mengenakan kembali beha dan celana dalam saya, tiba-tiba pintu rumah terbuka, dan seseorang yang saya kenal masuk ke dalam. Ia langsung melotot melihat apa yang dilihatnya di ruang tamu itu.
"Gina! Apa yang kamu perbuat pada adik gue!" bentak orang itu. Saya menyeringai.
"Aria! Gue cuma mengajari Ricky tentang apa yang pernah kamu buat terhadap diri gue!" kata saya acuh tak acuh.
"Keparat kamu!" Aria menampar pipi saya, membuat saya limbung. Tetapi saya berhasil menenangkan diri saya. Lalu dengan tidak mempedulikan Aria yang naik darah, saya kenakan pakaian saya kembali dan langsung pergi keluar rumahnya sambil tertawa puas. Skornya sekarang satu - satu!
Mungkin bagi para pembaca, perbuatan saya itu kelewatan bahkan terlalu gila. Tetapi itu memang kenyataannya. Keperawanan yang selama ini kujaga ketat ternyata direnggut begitu saja oleh teman-teman saya sendiri! Ini yang membuat saya ingin membalas dendam.
Terima kasih.
Regina H. Dharmawan

Next