Arsip 64


PERAWATKU YANG HITAM MANIS (#1)
From: "-----" <-----@graduate.org>
Date: Mon, 10 May 1999 23:31:18 +0700


Wiro, ini adalah kisah nyataku yang tidak kutambah-tambahi dan kukurang-kurangi, bisa untuk bahan pelajaran permainan seks bagi teman-teman yang membutuhkan, sehingga cocok kalau ditayangkan ke Cerita-Cerita Seru (CCS).

Aku, Wawan, adalah seorang dokter yang beberapa tahun yang lalu pernah bekerja di puskesmas kecil di suatu kecamatan di Jawa beberapa kilometer dari kota S. Ketika bekerja menjadi dokter puskesmas itu lah aku terlibat perselingkuhan dengan perawat anak buahku sendiri di puskesmas itu. Waktu itu aku masih muda (sekitar 27 tahun), kata orang wajahku cakep dan macho, sedang perawatku itu hitam manis terpaut sekitar 5 tahun lebih muda dariku. Aku sendiri saat itu sudah berkeluarga beranak satu berumur 2 tahun, demikian pula perawatku yang bernama Narsih sudah bersuami tetapi belum punya momongan.

Ceritanya begini.

Pada saat pertama kali datang melihat puskesmas tempat aku akan berdinas selama 5 tahun yang terletak di suatu kecamatan yang lumayan jauh dari kota kabupaten, aku datang sendirian. Di sana aku ditemui oleh seorang perawat wanita yang sudah bekerja di sana selama tiga tahun semenjak puskesmas itu selesai dibangun.

"Narsih", begitu dia memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangannya. Dalam hatiku, "Aduh, manis betul perawat ini".

Sambil bertanya tentang berbagai hal, yang menyangkut kunjungan pasien, tentang pelaksanaan program kesehatan yang selama ini dikerjakan olehnya (selama ini puskesmas dipimpin olehnya yang merupakan satu-satunya perawat dengan dibantu oleh 2 orang petugas lain), tentang keadaan masyarakat sekitar puskesmas, dll, aku tak puas-puasnya memandangi wajahnya yang manis itu. Sebaliknya, si manis ini juga sering dengan berani menatapku balik sambil senyum agak menantang. Pikirku, "Gawat juga anak ini", kelihatannya dia sangat tertarik secara seksual padaku.

Dia cerita kalau sudah menikah selama 2 tahun dan belum berhasil hamil juga. Aku bilang dengan sedikit menggoda: "Wah, jangan-jangan suamimu kurang hebat caranya. Kapan-kapan saya ajari ya".

"Ya dok, tapi jangan suami saya saja yang diajari, saya juga dong", ujarnya.

Beberapa minggu kemudian, aku benar-benar sudah berdinas di puskesmas ini. Aku tinggal di rumah dinas di samping kantor yang masih satu kompleks dengan puskesmas, demikian pula Narsih tinggal di rumah dinas pada kompleks yang sama tetapi di sisi lainnya. Istriku dari pagi sampai menjelang sore pergi ke kota S untuk bekerja. Jadi sesiangan rumahku nyaris kosong.

Pada hari pertama, aku mengajak Narsih berboncengan memakai motor ke desa-desa tempat wilayah kerjaku untuk orientasi dan berkenalan dengan beberapa kepala desa yang kebetulan dilewati.

Perjalanan melalui jalan yang sebagian besar masih berupa tanah yang dikeraskan, dan di beberapa tempat berupa batu "makadam" yang bergelombang. Tangan Narsih yang kubonceng di belakangku berkali-kali memegang paha atau pinggangku karena takut terjatuh. Aku senang bukan main sambil berdebar. Berkali-kali pula buah dadanya yang tidak terlalu besar tetapi kenyal itu menyenggol di punggungku. Rupanya dia juga tak sungkan-sungkan untuk menempelkannya. Melihat sikapnya yang seperti itu, aku meramal bahwa Narsih suatu saat pasti bisa kuajak bergelut bugil di tempat tidur.

Tubuh Narsih cukupan, tingginya sekitar 160 cm, badannya langsing, kakinya mempunyai bulu-bulu yang cukup merangsang lelaki, walau pun kulitnya sedikit gelap. Wajahnya manis mirip Tony Braxton, si penyanyi negro itu. Buah dada tidak besar, yah kira-kira setangkupan telapak tanganku. Itu pun kukira-kira saja, karena di waktu dinas tubuhnya di balut seragam dinas Pemda. Rambutnya sebahu. Yang jelas, wajahnya manis, seksi dan senyumnya menggoda.

Dalam perjalanan berboncengan Narsih menceritakan perjalanan hidupnya sejak lulus sekolah dan langsung ditempatkan di puskesmas ini. Di sini mula-mula dia tinggal bersama adik ceweknya yang sekolahnya dibiayainya. Dia sempat berpacaran dengan seorang pemuda yang tinggal di depan rumah dinasnya, tetapi akhirnya justru tetangga lainnya yang memintanya untuk dijadikan menantu. Akhirnya permintaan belakangan itulah yang dipenuhinya sehingga Narsih dinikahi oleh seorang pemuda putra seorang tokoh masyarakat desa (tetangga dekat tadi) dan cukup berada, tanpa melalui proses pacaran.

Narsih rupanya selama itu menjadi "bunga" di desa tempat puskesmas berada. Dia menjadi inceran banyak pemuda desa situ, juga orangtua-orangtua yang menginginkannya menjadi menantunya.

Tanpa sengaja, ketika Narsih sedang asyik bercerita, motor saya melawati lubang yang cukup membuat motor bergoyang keras, dan bibir Narsih sempat menempel di leherku bagian belakang (aku sedikit geli, tetapi tentu senang dong) dan krah bajuku terkena warna merah lipstiknya. Dia segera membersihkan krah tersebut, kawatir dicurigai istriku macam-macam. Tapi aku tenang saja, bahkan aku bilang: "Nggak apa-apa koq, ditempeli sekali lagi juga nggak apa-apa, apalagi kalau nggak cuma di krah baju". "Ih, pak Wawan macam-macam ..., nanti dimarahi ibu lho.", katanya agak genit.

Beberapa minggu kemudian nggak ada kejadian istimewa, sampai suatu hari Narsih sakit diare dan nggak bisa masuk kantor. Pembantunya menyusul ke puskesmas, dititipi pesan agar kalau saya sudah tidak terlalu sibuk bisa menengok dirinya, mungkin bisa memberi advis mengenai pengobatannya.

Setelah pasien sepi dan tak ada pekerjaan kantor yang berarti, aku menjenguknya ke rumahnya, dan diminta masuk kamar tidurnya. Waktu itu suaminya nggak ada di rumah, karena sehari-hari suaminya bekerja di suatu pabrik di kecamatan sebelah. Aku melihat dia berbaring di ranjang, walau pun sedang sakit, tetapi kulihat wajah dan tubuhnya justru makin merangsang dibalut baju tidur yang cukup seksi.

Kawatir aku nggak bisa menahan diri di kamarnya, aku segera minta padanya, kalau masih bisa jalan (aku lihat sakitnya biasa saja), untuk pergi ke rumahku setelah jam kantor minta diantar pembantu. Toh, jaraknya cukup dekat. Sementara itu dia kuberi obat seperlunya.

Sepulang kantor, Narsih datang ke rumah diantar pembantu, kemudian pembantunya disuruhnya pulang duluan, sehingga aku dan dia tinggal sendirian di rumahku. Pembantuku (suami-istri) kalau siang seusai bekerja pulang ke rumahnya dan petangnya kembali lagi, sebab mereka adalah penduduk desa setempat.

Narsih kusuruh masuk ke kamar periksa, kemudian kuminta berbaring di tempat tidur periksa. Aku memasang stetoskop, dan kuminta dia untuk membuka sebagian kancing atasnya (Narsih memakai pakaian rok dan kemeja blues yang dikeluarkan). Aku mula-mula serius memeriksa dadanya dengan stetoskop, tetapi begitu melihat sembulan buahdadanya yang nggak besar di balik BHnya, aku tiba-tiba berdebar dan bergetar. Aku nggak pernah bergetar bila memeriksa pasien wanita lain, tetapi menghadapi Narsih koq lain.

Dengan spontan tanpa meminta ijin dari empunya, buahdadanya kuraba halus dari luar dan kuelus-elus. Narsih tak membuat gerakan penolakan, matanya justru terpejam sekan menikmati. Seluruh kancing bluesnya langsung kucopoti, sehingga BH Narsih itu terlihat bebas menantang.

Bibirnya kukulum dengan cepat, sambil tanganku masih mengelus-elus buahdadanya dari luar BH nya yang belum kulepas. Seperti yang sudah kuduga, kuluman bibirku disambutnya dengan ciumannya yang lembut tapi hebat. Lidahku kujulurkan dalam-dalam ke langit-langit mulutnya, sebaliknya lidahnya segera membalas dengan memilin lidahku. Aku melihat Narsih terengah-engah menahan emosinya, sambil mengerang: "Ssssh, pak Wawan, pak, ah ... argghhh ... ssshhh".

Tanpa menunggu lama, sambil Narsih masih tetap terbaring dan mulutnya masih kubungkam dengan bibirku, cup BH nya kuangkat ke atas tanpa kucopot kancingnya terlebih dulu. Susunya langsung tersembul keluar dengan indahnya. Benar dugaanku susunya tak besar, tetapi bagus dan kencang dengan puting susu kemerahan yang tak terlalu menonjol. Itulah susu Narsih yang sudah kubayangkan beberapa lama dan ingin kukulum. Itulah sepasang buah dada Narsih yang masih kenyal belum sempat mengeluarkan ASI karena belum sempat hamil.

Tangan kananku segera meraba-raba pentilnya bergantian kanan dan kiri dengan gerakan memutar yang halus. Narsih makin menggigil dan tambah mengerang: "Paaak, Narsih malu paak ... ssshhh aargghhh ... ssshh ...". Aku terus menjilati bibir dan wajahnya sambil berdiri, dan tanganku memijat-mijat susunya yang ranum. Tangan Narsih merangkul leherku, matanya berkejap-kejap, sambil mulutnya terus mendesah di tengah-tengah kuluman lidahku.

Setelah puas menjilati wajah dan bibirnya, mulutku beralih ke leher dan belakang telinganya. Dia makin menggelinjang sambil setengah menegakkan kepalanya. Aku masih terus berdiri, stetoskopku sudah kulempar jauh-jauh. Segera kemudian, mulutku sudah berada di puting susu kirinya. Aku jilat sepuasnya. Dada Narsih menggeliat dan sekali-kali membusung, sehingga susunya makin terlihat indah dan menggairahkan. Desisan Narsih makin menghebat, "Aaarggghhh, paaaak, aku nggak tahan paaak ...". Tanganku pelan-pelan menelusuri pahanya yang mulus walau pun berkulit agak sedikit gelap. Tapi warna kulit seperti ini justru sangat merangsang diriku. Kontol di balik celanaku sudah menegang sejak tadi ketika aku mulai pertama kali melihat BH nya. Aku mulai menelusuri pahanya pelan-pelan ke atas menuju selangkangannya di balik rok yang masih dipakainya, sambil aku masih terus menggelomohi kedua puting susunya. Kulirik wajah manis perawatku ini. Ah, betapa makin merangsangnya tampakan wajahnya, yang sambil sedikit merem-melek matanya menahan nafsu birahi, mulutnya mendesis mengerang terus menerus walau pun tidak dengan suara yang keras, "Aaarghh, paakk, aku ... aku nggak tahan lagi paak."

Tetapi, begitu tanganku sampai di pinggir celana dalamnya, tiba-tiba dia tersadar dan langsung bilang, "Ah, pak, jangan sekarang pak ..". Aku agak kaget, "Mengapa Sih? Aku sudah nggak tahan Sih, kepingin menelanjangi kamu." Narsih menjawab: "Kapan-kapan pak untuk yang itu.".

Aku tak berani nekat meneruskan, tapi wajah, bibir, dan susunya masih terus kujilati bergantian.

Aku berciuman seperti itu sambil pakaianku masih lengkap dan masih tetap berdiri, sedang Narsih sudah setengah bugil sambil tetap tergolek di ruang periksa, kurang lebih setengah jam. Akhirnya, karena aku kawatir kalau istriku datang dari kantor, maka perbuatan kami yang sudah kerasukan nafsu birahi yang menggelegak itu kuhentikan, dan Narsih kusuruh berpakaian kembali dan kuminta segera pulang. Aku sempat berciuman sekali lagi. Mesra, seperti sepasang kekasih yang baru dilanda asmara.

Beberapa hari kemudian, setelah kantor tutup, Narsih yang sudah sembuh dari diarenya, kuminta datang ke rumah. Dia datang masih memakai seragam dinas. Demikian pula aku.

Kusuruh dia duduk di sampingku di sofa ruang tamu. Ruang tamuku tetap kubiarkan terbuka pintunya, toh aku tetap bisa mengontrol situasi luar rumah dari kaca besar berkorden dari dalam. Orang luar tak bisa melihat ke dalam, sebab pencahayaan dari luar jauh lebih terang.

Melihat situasi luar yang cukup aman, dan saat itu di rumah dinasku hanya ada aku dan Narsih, maka kuberanikan mencoba melanjutkan apa yang sudah kumulai beberapa hari sebelumnya.

Narsih yang berada di samping kananku langsung kupeluk mesra, kuelus rambutnya dan kucium bibirnya dengan rasa sayang. Namun tanpa kuduga, dengan ganas (Narsih sepintas kuperkirakan adalah wanita yang hiperseks, dan di kemudian hari dia memang mengakuinya kalau dia nggak pernah puas ketika berhubungan seksual dengan suaminya, walau pun menurut ukurannya suaminya mempunyai kemampuan seksual yang sangat hebat), dia menyambut ciumanku dengan jilatan-jilatan lidahnya yang memilin-milin lidahku. Tangannya dengan berani meraba selangkanganku yang tertutup celana dinas dan meraba kontolku yang sudah menegang ketika mulai berciuman tadi. Kontolku dikocoknya dari luar dengan trampil dan membuatku keenakan (jujur saja, istriku tidak bisa seperti itu).

Secara cepat dan trengginas, karena nafsu yang sudah berkobar-kobar, aku pun langsung membuka kancing seragam atasnya, dan dengan lahap kukeluarkan seluruh buah dadanya yang ranum dari cup BH tanpa membuka kancing yang terletak di belakangnya. Susunya langsung kuremas dengan lembut, pentilnya yang imut kupilin-pilin sampai menegang, dan aku terus menciumi bibir dan kadang menciumi wajah dan belakang telinganya. Narsih meregang, dan kali ini dia memanggilku tidak lagi pak atau dok, tetapi sudah berubah menjadi `papaŽ, "Ehmmpph, sshh ... paaaaaah, aku sayang kamu paaah, Narsih sayang papaaah ... aaarghh ....".

Aku pun berganti menjawab sekenanya dan seberaninya, "Aku juga sayang Narsih, bener aku sayang kamu, hari ini aku ingin memasukkan kontolku ke tubuhmu, sayang, boleh?"

Narsih langsung menjawab, "Boleh yaaaang, boleh ... arrghhh ... sshhshh ... cepatan ya yaaaang ... aaaargrhhh ....".

Mendengar jawaban itu, tanpa ragu, aku segera memasukkan jari kedua tanganku ke selangkangannya yang masih tertutup seragam dinas, dan dengan bernafsu kucari celana dalamnya, dan begitu ketemu, tanpa ba-bi-bu lagi langsung kupelorot dan kusimpan di saku celanaku. Demikian pula Narsih, dengan terengah-engah, langsung dia membuka resleting celanaku dengan sebelumnya melepaskan ikat pinggangku yang kemudian dia lempar jauh-jauh, dan tangannya dengan cepat menyergap kontolku yang berukuran panjang 14 cm dengan diameter yang cukup besar. Aku ikut memelorotkan celanaku walau pun nggak sampai kulepas sama sekali. Tangannya dengan cekatan mengelus kontolku, mengocoknya, sembari tubuhnya menggelinjang karena jariku sudah mengelus tempik vaginanya yang basah. Sebagian jariku pelan-pelan kumasukkan ke dalam lubang tempiknya, dan kugeser-geser melingkari lubang sempit itu. Jempolku mencari kelentitnya, begitu ketemu kuelus dengan permukaan dalam jempol.

"Ah, paaah, aku nggak tahan paaah ... aggghhh, ..... paaaah .....eeennaaak paaah ...", dia mengerang setengah berteriak, tetapi mulutnya segera kubungkam dengan mulutku, kukulum agar suaranya tidak terdengar oleh orang-orang yang mungkin ada di luar, kemudian kujilati bibir dan seluruh permukaan wajahnya sampai basah terkena ludahku.

Sambil setengah bergumul, mataku selalu waspada melihat keadaan luar rumah melalui kaca berkorden untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada orang yang mau masuk ke rumah. Karena situasi yang tidak terlalu aman itu, aku tidak berani melakukan adegan birahi kami ini dengan berbugil total..

Tanpa menunggu lama lagi, karena darah birahi yang sudah sampai ke ubun-ubun, tubuh Narsih kutarik ke depan tubuhku, sambil dia tetap duduk menghadap ke depan membelakangiku, dan aku bersandar setengah duduk di sofa, dengan perlahan tapi pasti, rok bawahannya kusingkap dan kuangkat, pantatnya kupegang, selangkangannya yang sudah tak bercelana dalam kurenggangkan lebar-lebar, pahaku kurapatkan dengan kontol yang mengacung ke atas, kemudian tangan kiriku memegang kontol dan kubimbing masukkan ke vagina tempik (memek)-nya. Narsih ikut membantu memegang kontolku dengan tangan kanannya, dan perlahan-lahan pantatnya diturunkan ke bawah. Vaginanya terasa sempit juga (mungkin karena belum pernah melahirkan bayi), tetapi berkat bantuan lendir vaginanya yang sudah banyak, tanpa kesulitan yang cukup berarti kontolku akhirnya berhasil masuk juga ke sebagian vagina depannya. Narsih sambil menghadap ke depan terus mengerang, pantatnya mulai bergoyang-goyang, dinaik turunkan, agar kontolku bisa lebih masuk ke dalam.

"Aduuuh paaaaah, enaaak paaaah .... Ssshhh ... arggh , aaduuuh paaah ...", erangnya. Aku juga mulai mendesis merasakan enaknya tempik perawatku yang sangat manis dan hot ini, sambil benakku berseliweran membayangkan keberanianku menyetubuhi istri orang. Ah, persetan, salahnya punya istri manis disia-siakan, sehingga masih mencari kontol atasannya. Betul-betul vagina yang nikmat, nggak salah aku ditempatkan di puskesmas ini, aku bisa menikmati sepuasnya vagina Narsih yang sedap. Kepunyaan istriku sendiri tidak senikmat ini.

"Narsiiih, kamu memang enaak, Narsih ..." begitu desisku.

Sambil aku juga ikut menggerakkan pantatku naik turun seirama dengan naik turunnya pantat Narsih, aku mengocok kelentit Narsih yang ada di depan dengan tangan kananku. Tangan kiriku terus meraba habis susunya yang terasa kenyal di depan. Narsih makin menggelinjang seperti cacing kepanasan, karena kocokan jariku pada kelentitnya yang makin menonjol. Pantatnya makin dia goyangkan selain naik turun juga ke kanan kiri. Rasanya bukan main enak, tak terkirakan. Beginilah rupanya rasa tempik Narsihku, Narsihku yang bisa menggantikan tugas istriku di siang hari, Narsihku yang mempunyai gerakan tubuh yang hebat dan nikmat.

"Siiiih, kamu sayang papa beneran nggak, aku eeennnaaaak Siiih ....!"

"Aaaaduuuh paaaah, Narsih sayang paapaaaah, eennaaak juga aku paaaah, koq bisa enaaak gini ya paaaah? Aaaargghhhh ..... ssshh ... arrrgggghhhhhhhhhhhhhhhh .... Paaaaah ..."

Aku makin cepatkan kocokanku naik turun, demikian pula Narsih, dia makin menggeliatkan tubuhnya ke sana kemari. Sayang, aku nggak bisa melihat tubuh indahnya sambil berbugil, karena situasinya yang tak memungkinkan.

Tiba-tiba Narsih, setengah berteriak bergetar-getar tubuhnya, "Aaarghhh ... paaah, aku nggak tahaaan paaaah, aku mau orgasme paaaaah, paaaaah ...". Aku sendiri hampir nggak tahan juga merasakan denyutan tempiknya yang asyik. Sekali lagi, betul-betul tempik yang enak dan nikmat

"Nggak apa-apa Siiih, kalau mau orgasme, nggak usah ditahan Siiih, papa juga mau keluar, aarghhh ...".

Gerakan kontolku makin kupercepat walau pun tidak terlalu bebas, karena posisiku yang di bawah, sambil tanganku mengocok susu dan bibir Narsih kucari dan kumasukkan jempolku ke mulutnya dan segera diempotnya seperti bayi sambil terus mendesah. Tak lama kemudian, Narsih mengejang, "Arrrggghhhhh paaaaaaaaah .... Arrrghhhhhh ......", badannya bergetar, rupanya Narsih telah orgasme hebat. Kontolku terasa dijepit berdenyut-denyut. Karena proses orgasme tubuhnya menggeliat seksi ke belakang sehingga tampak makin menggairahkan.

Pemandangan itu, walau cukup kulihat dari belakang, membuat aku juga sudah merasa nggak tahan lagi, geli hebat mulai terasa di ujung kontol yang masih berada di tempik Narsih. Goyanganku kupercepat lagi, Narsih kupeluk erat-erat, dan ... "Aaaarhggggghhh ... aku juga keluar Siiiih ... eenaaaak Siiih .....".

Pantat Narsih kutarik keras-keras ke bawah agar seluruh kontolku terbenam di tempiknya, dan kusemprotkan keras-keras air maniku ke dalam vaginanya, sambil berharap agar ada spermatozoa yang bisa menyerbu ovumnya sehingga menghasilkan pembuahan, karena mendadak hari ini aku merasa mencintai Narsih, tidak sekedar mencari kepuasan seksual saja.

"Ooooh paaaah, aku cinta kamu paaaah ...., Narsih sayang kamu paaah. Aku kepingin anak dari kamu paaah ..." kata Narsih sambil terus memutar-mutarkan dan menekan pantatnya menjadikan kontolku seperti diperas-peras isinya, dan beberapa kali menyemprotkan mani sampai ludas. "Aku juga sayang kamu, Narsih ... kapan-kapan aku ingin mengajakmu main seks sambil betulan telanjang bulat, mau ya Siih ...?"

Narsih langsung menjawab dengan manja: "Tentu Narsih mau sekali paah, minggu depan ya paah, kita cari tempat enak untuk bikin anak yang nikmat ya paah?"

Sambil tubuh Narsih masih terduduk di atasku yang juga separuh duduk, lehernya agak kuputar kesamping, dan bibirnya kucium sayang, mesra sekali, sementara kontolku masih tetap berada di dalam jepitan tempik-vaginanya yang masih juga terus berdenyut nikmat ....

Bersambung pada: PERAWATKU YANG HITAM MANIS (#2)


SEX YANG INDAH
From: "------ -" <------_-@hotmail.com>
Date: Mon, 03 May 1999 16:06:01 JAVT


Terima kasih untuk Wiro, karena telah memberi inspirasi saya untuk juga   menyumbangkan pengalaman yang sangat pribadi untuk saling membagi pengalaman diantara kita.
Langsung saja, saya Jon (samaran) pemuda WNI keturunan, umur 35 th dengan tinggi 182 cm berat sekitar 78 Kg, banyak yang bilang saya ini gagah dengan wajah cukup menarik. Pengalaman selingkuh ini terjadi sekitar 4 tahun y.l. Waktu saya pertama berkenalan dengan In, dia masih punya pacar Han, tetapi menurut pengakuannya Han orangnya agak dingin. Dan dia mau pacaran dengan Han karena orang tuanya berhutang budi kepada Han karena orang tua In pernah dipinjamin uang yang cukup besar oleh Han untuk menyelamatkan orang tua In dari kebangkrutan. Pendek kata saya dan In akhirnya berteman saja, kita sering bertelepon dan makan bersama (tanpa sepengetahuan Han). Saya sebenarnya sangat tertarik kepada In karena dia gadis yang sangat menarik dari cara bicaranya, bodinya juga sangat bagus meskipun tingginya cuma sekitar 158 cm, dengan rambut sampai punggung kulitnya putih mulus, karena dia memang merawat tubuhnya secara rutin. Akhirnya pada suatu Minggu pagi dia telpon ke tempat kost saya dan mengatakan apakah saya bisa menjemput dia di rumah ortunya di Cilegon, karena pacarnya Han tidak bisa menjemput dia. Karena saya memang naksir In, langsung saja saya bilang ya. Sekitar jam 12 siang saya sampai kerumah dia di Cilegon, langsung saya makan siang dulu dengan keluarganya (In mengaku saya ini teman biasa kepada keluarganya). Setelah itu sekitar jam 13.30 kita sudah meluncur di-mobil, lalu In menawarkan untuk mampir ke Pantai Carita, yang langsung saya setujui. Di jalan pinggir pantai tiba-tiba saja timbul keberanian saya untuk langsung mencari pantai yang kosong tidak di-hotel atau resort lainnya, yang juga disetujui oleh In dengan rada cemas. Kebetulan sekali saya menemukan tempat kosong di-pinggir pantai, kami lalu duduk-duduk dan ngobrol di mobil nggak tahu jam berapa pokoknya sampai Matahari mulai tengelam, saya ajak dia ke pinggir pantai untuk menikmati sunset yang suangat indah. In duduk di pasir sambil melamun (atau menikmati pemandangan), timbul keberanianku untuk memeluk dia dari belakang, dia agak kaget tapi diam saja kuketahui dari sentakan tubuhnya waktu kupeluk sari belakang. Sambil kupeluk kita diam saja sambil menikmati sunset, pelan pelan ku-cium leher bagian belakangnya, dia cuman mendesah sambil bilang: Kamu nakal Jon, setelah itu aku semakin berani karena aku merasakan bahwa In juga menikmati kehangatan suasana Sunset yang sangat romantis dan sekaligus rangkulanku yang sensual. Pelan-pelan kutelusuri tubuhnya dengan tanganku, mulai dari pinggang naik keatas, dengan elusan lembut kurengkuh dadanya, dan kurasakan buah dadanya yang masih kenyal, In hanya merintih … aaah … aaah, kamu kanal Jon, katanya. Aku semakin menikmati ke-mesraan ini, aku pikir dia juga sangat menikmati ini, karena suasananya sangat mendukung. Kuulangi lagi elusan - elusan erotis mulai dari pinggang bagian samping, ke arah perut kembali lagi ke pinggang, sesekali ku remas tulang pinggulnya, ku-elus bagian prut lalu ketengah antara buah dadanya, lalu turun kebagian atas vaginannya yang terasa lebatnya rambutnya, yang membuat dia semakin hanyut dalam kenikmatan. Akhirnya dia tidak dapat menahan lagi, tiba-tiba dia berbalik , menindih dan mencium saya dengan sangat bernafsu, sambil tangannya menerobos celana saya dan meremas burung saya. Sayapun dengan keadaan tertindih memeluk dia dan meremas pantatnya sambil menarik-narik dan menggesek-gesekkan organ organ kita yang masih tertutup pakain. Setelah berlangsung kira-kira 5 menit, sayapun bangun dan membimbing In masuk ke dalam mobil saya. Di mobil langsung saja saya dudukkan dia ke jok belakang dari mobil kijang saya. Saya cium mesra dia lalu saya kunci pintu mobil, mesin saya nyalakan untuk menyalakan AC mobil, juga saya setel lagu dari Kenny G. Setelah itu, kita berciuman lagi dengan hot sekali, sambil tangan saya mulai melepaskan BH-nya, lalu kaos ketatnya, dan juga celana jean sekaligus dengan CD-nya. Dia-pun juga tidak mau kalah dengan melepaskan kemeja dan jean saya (CD-Nya belum). Pelan-pelan ciuman saya mulai pindah dari mulut ke pipi dan telinga lalu belakang telinga, sambil dada saya yang telah telanjang saya gesekkan ke payudaranya, diapun mendesah terus. Ciuman mulai pindah ke daerah dada, tengah dada, lalu ke putting susunya yang telah mengeras, dia mendesah terus sambil meremas-remas rambut saya. Lalu ciuman saya arahkan ke bawah, ke daerah pinggir dari vaginanya, sampai dia mengerang keenakan, baru saya menuju ke kelentitnya, juga saya masukkan lidah saya kedalam vaginanya yang telah basah sejak tadi, sambil tangan saya menggoyang-goyang ddaerah antara vagina dan anusnya. Ini asyik sekali karena alunan terompet dari Kenny G selalu mengiringi setia erangan dan ayunan gerakan kita. Akhirnya dia tidak tahan lagi, "Masukkan Jon, masukkan Jon", erangnya. Dan sayapun memasang kondom yang selalu saya sediakan didalam kantong, duduk disamping dia sambil menarik In supaya dia mengambil posisi duduk diatas mengangkangi saya, kita berciuman lagi sebelum akhirnya penis saya dimasukkan kedalam vaginanya, dan dia memompa naik turun, sambil mengerang-erang keenakan. Penis saya tidak besar dan tidak kecil sekitar 17 Cm dengan diameter sekitar 3,5 cm. Tetapi vagina In sangat kecil yang membuat gesekan kita sangat terasa. Belum 5 menit vaginanya sudah terasa semakin licin, tanda bahwa In sudah orgasme lagi entah yang ke berapa, dan lemas kepuasan, entah mengapa saya cium dia lagi di-bibirnya, dan dia sambut dengan hangat. Setelah itu saya tidurkan lagi dia di Jok mobil, lalu saya angkat kedua kakinya, maka terlihatlah vaginanya menganga diantara kedua pantatnya, tanpa menunggu lama-lama lagi langsungsaja saya masukkan lagi penis saya, dan saya  pompa, saya selingi dengan ciuman di lututnya, sambil saya gigit pelan dan saya jilat-jilat, sampai In merasa kegelian dilututnya selain keenakan di vaginanya sampai sekitar 15 menit,In mulai berontak histeris, karena dia akan orgasme lagi, cepat cepat saya konsentrasikan untuk orgasme, karena saya sudah belajar dari Mr. Mantak Chia (pengarang buku "Pria Multi Orgasme", bagaimana untuk memisahkan orgasme dan Ejakulasi), akhirnya saya orgasme bersama sama dengan orgasme In yang entah keberapa. Setelah itu saya In dengan penuh sayang, di mulut lalu di kening. Dan saya pangku sambil saya peluk dia, In apakah kamu menyesal?, tanya saya. Oh Jon ini pengalaman saya yang takkan pernah saya lupakan, jawabnya. Setelah itu kamipun berpakaian dan pulang ke Jakarta sambil sering berpegangan tangan di-mobil. dan dia tidur dipangkuan saya (saya sambil menyetir mobil) selama perjalanan karena kecapean. Setelah kejadian itu kami sering melakukannya di Ancol tetapi tidak se romantis kejadian diatas. Beberapa bulan kemudian dia menikah dengan Han, dan mereka pindah ke Kota lain. Saya tidak dapat melupakan kejadian yang satu ini, sedangkan yang lain-lain di Ancol sudah lupa bagaimana. Karena kejadian di Carita tersebut sangatlah romantis, tenang, santai, tidak tergesa-gesa, alur kejadiannya sangat halus, penuh kemesraan. Diantara pembaca kalau ada yang membutuhkan masukan-masukan (juga memberi masukkan, karena saya juga perlu) mengenai bagaimana membuat sex itu indah (saya sangat suka sex indah dan berkualitas, saya tidak suka sex hanya untuk sex) bisa berdiskusi dengan saya di: 
kusuma_w@hotmail.com

Thanks Mas Wiro.


NIKMATNYA SEKS (2)
From: ----- ----- <---------@usa.net>
Date: 1 May 99 06:34:03 MDT


Halo semua penggemar wiro dan cerita2 seru! Ini gue mau lanjutin cerita gue dulu dengan si Vira...semoga tidak membosankan...

Setelah 5 bulan pacaran...Vira makin ahli dalam melakukan hubungan seks. Hampir setiap hari dilewatkan dengan melakukan hubungan2 panas...well kecuali ya kalau dia dateng bulan. Kalau vira lagi dapet bulan...biasanya dia suka oral seks aja. Dia nggak mau gue melakukan onani apabila sedang nafsu sekali...jadi mendingan dia yang memuaskan gue dengan cara nyepongin sampe gue bener2 puas.

Yang mau gue ceritakan ini berlangsung persisnya malam sabtu. Waktu itu gue ama dia lagi demen2nya main bowling. Terus kalau udah lelah bermain, kita biasanya duduk2 di barnya sambil kadang minum2 alcohol. Sebenarnya sih si Vira yang lebih sering berhubung gue gak gitu suka minum2. Tapi nggak tau kenapa, malam itu kita berdua lumayan minum banyak. Dan yang pasti, kalau Vira udah minum lumayan banyak...nafsunya naek sekali. Di bar itu aja...berhubung orang2nya kita udah pada kenal...kita udah cuek aja cium2an yang panas. Kali ini gue agak risih walaupun sudah agak teler gara2 Vira udah sampe menggesek2 kontol gue sambil ciuman yang super dalam. Gue paling nggak tahan deh kalau dia udah mulai mainin lidahnya...wah kontol gue asli udah tegang banget. Dalam waktu cuman beberapa menit...gue langsung ajak dia pulang...soalnya gue udah nggak tahan lagi.

Di dalam mobil, baru mulai jalan, Vira udah lansung membungkuk dan membuka restleting celana gue. Dalam sekejap, kontol gue udah ilang masuk kedalam mulutnya. Vira satu2nya cewek yang pernah nyepongin gue sampe seluruh kontol gue masuk ke dalam mulutnya. Sesudah sampai ujungnya...dia suka berenti sebentar...keluarin lagi...dan masukin lagi ke dalam mulutnya dalam2.

Sampe di apartment gue...baru masuk, langsung gue tarik badannya dari belakang dan sambil meremas2 toketnya gue jilatin leher dan telinganya. Masih berada dibelakangnya Vira, gue buka bajunya dan tanpa melepaskan behanya yang silk hitam gue terusin jilatin leher dan punggungnya sambil terus meremas2 toketnya. Gue udah yakin banget Vira udah basah karena emang udah ditahan2 birahinya dari tempat bowling tadi. Apalagi dia terus2an mendesah2 dan badannya menggeliat2 seperti agak kegelian. Tiba2 Vira balikin badannya... dan medorong gue dan nyruh gue tiduran di karpet. Dengan sedikit goyang2 sensual... dia membuka seluruh pakaiannya pelan2... satu demi satu... sampe tanpa memakai apa2 lagi. Gue juga dengan cepat langsung menanggalkan seluruh pakaian gue. Vira jalan pelan2 kearah gue... dan dari kaki gue... dia ciumin dan jilatin pelan dari bawah keatas. Kontol gue yang udah ngaceng banget...dilumat lagi ama Vira. Sekali ini dia lebih banyak menjilat2 ujungnya... dan lagi2 melumat seluruh batang gue. Wah...kalau ngikutin nafsu...gue bisa2 udah langsung ngecret. Untung gue bisa nahan dengan mengatur pernafasan.

Lalu langsung gue suruh dia balik badan...dan kita melakukan 69. Yang buat gue salut...memeknya nggak pernah ada bau sama sekali. Mantan2 gue biasanya sering ada yang bau yang bikin gue agak jijik. Sama Vira...gue bisa tahan lama jilatin memeknya sampe dia udah basah banget.

Kira2 hampir sepuluh menit 69...vira langsung balik badan dan meminta ama gue untuk langsung masukin aja. Vira sangat suka di atas karena dia suka mengatur permainan. Dengan gampang kontol gue masuk ke memek Vira...dan Vira tanpa acara main pelan...langsung goyang cepat2 dengan penuh nafsu. Suara desahannya kencang sekali sampe gue aja takut kedengaran ama tetangga gue. Nggak berapa lama... Vira langsung berenti sambil melumat bibir gue dalam...dan teriak sambil memegang tangan gue erat2. Ternyata Vira sudah orgasme.

Gue yang belum puas...langsung mengambil posisi duduk dan mulai nyuruh Vira goyang lagi. Ini adalah posisi favorite gue...karena kepala gue pas di toket dia. Sambil Vira goyang2 pelan...gue bisa melumat dan menjilati toketnya. sambil ciumin bibirnya...gue mulai nyuruh dia goyang yang cepat sambil megangin pantatnya. Akhirnya Vira orgasme lagi dengan nekan punggung gue keras2. Gue kasi si Vira istirahat dulu kira2 2 menit biar dia ngambil nafas lagi.

Kali gara2 pengaruh alcohol di bada gue yang bisa bikin gue kuat banget. Biasanya gue paling lama juga tahannya 20 menitan. Gue yakin kita udah melwatin setengah jaman dikarpet itu...dan gue juga belum mau keluar. Gue suruh dia berdiri...dan gue dorong sampe ke dinding apartment gue. Dalam keadaan berdiri...gue masukin lagi kontol gue yang masih tegang ke dalam memeknya Vira. Beberapa menit dalam posisi berdiri...gue angkat Vira dan terusin goyangnya sambil nyender didinding. Itu pertama kali gue melakukan posisi seperti di film2 bokep. Ternyata oke juga! Lama2 capek juga gue posisi ngangkat Vira gitu...terus sambil terus Vira Gue "gendong"...gue bawa kearah kamar mandi. Di Depan kaca yang lumayan gede dikamar mandi gue...gue suruh Vira membungkuk gaya doggie style. Wah..ternyata sambil doggie style dan melihat goyangan kita didepan kaca membikin darah gue makin menggebu2! Vira makin teriak2 dengan penuh nafsu. Akhirnya...gue nggak tahan lagi dan bilang... "Vir...aku udah mau keluar nih...tapi aku pingin keluar di mulut kamu."
"Ky...tanggung...aku juga keluar dulu donk sekali lagi"
terus gue goyang lagi kencang2...sampe dia teriak kerasss sekali...dan sangat menggema berhubung lagi dikamar mandi. Lalu gue keluarkan kontol gue...dan nyuruh Vira nyepongin gue. Tanpa bersihin kontol gue...dia langsung megang kontol gue dan dia kocok2 ama Vira sebelum dia telan lagi seluruh batang gue. Melihat adegan sendiri didepan kaca membuat gue sangat tidak tahan lagi! Akhirnya...setelah ngecret yang pertama didalam mulut Vira, Vira keluarkan kontol gue dan mengarahkannya ke mukanya. Argghhh...beberapa kali kontol gue nyemprotkan air mani yang rasanya nggak ada habis2nya kemukanya. rasa puasnya nggak terucapkan dengan kata2. Apalagi setelah keluar semua, Vira jilatin ujung kontol gue dan nyepongin lagi pelan2 sampe gue mulai ngerasain ngilu.

Berhubung udah dikamar mandi...Vira langsung ngajakin mandi. terus kita mandi bareng sambil nyabunin badan satu sama lain.

Itu adalah pengalaman seks gue yang tidak ada nandingin sampe sekarang. Mungkin banyak rekan2 wiro sekalian yang mengalamin lebih dari itu...tapi buat gue...itu adalah hubungan seks terindah gue...juga yang paling lama! Soalnya...setelah mandi, gue liat udah sejam setengah terlewati. Sayang sampe sekarang saya belum pernah menemukan cewek yang bisa nandingin Vira.

Kalau ada yang mau ngasi kritikan dalam bahasa gue menuangkan cerita...atau memberi masukan apapun...silahkan layangkan email anda ke cowokasik@usa.net. Terima kasih bung Wiro kalau ceritanya dimasukin ke dalam salah satu arsip anda ;)


DIA SANG PENULIS (2)
From: ------ ---------- <------------@hotmail.com>
Date: Sat, 01 May 1999 17:36:23 +0700


Mas Wiro,
Sorry yaa kalau ceritanya bersambung. Maunya sih ditulis komplit, cuman waktunya itu yang nggak mendukung. Aku menulisnya di waktu senggang dan terus terang kebanyakan kalau pas aku lagi gundah mikirin "temen" kamu itu.

Seperti yang mas Wiro baca di akhir cerita yang lalu, bagaimana penyesalan diriku yang nggak karuan juntrungnya. Setelah kejadian itu hampir selama dua minggu kami tidak melakukan komunikasi, atau lebih tepatnya aku yang menolak untuk berkomunikasi. Kuhindari segala upayanya untuk dapat menemuiku. Aku nyaris tak dapat berkonsentrasi pada pekerjaanku. Hampir setiap tugas yang kuselesaikan selalu ada kesalahan. Akhirnya atasanku dapat membaca perubahan yang terjadi pada diriku, disuruhnya aku mengambil cuti selama seminggu. Seperti biasanya, aku gengsi mengakui kelemahanku, pada awalnya kutolak sarannya itu, tetapi kemudian dengan lembut namun tegas ia mengubah sarannya itu menjadi sebuah perintah. Pada hari pertama cutiku seharian kugunakan untuk melamun dan mengkaji kembali hubunganku dengannya. Apakah memang seharusnya aku menyesal ? Tidakkah itu suatu hal yang naif ? Pertanyaan itu timbul dalam hatiku.
"Ahhhh, seharusnya kamu tak menyesalinya, toh ia tak melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan ...", demikian suara dari hati kecilku.Salahkah dia ? Apakah dia memanfaatkan diriku ?
"Siapa yang memanfaatkan siapa ?",  balas suara dalam hati kecilku itu lagi. Demikian silang pendapat itu bermunculan silih berganti dalam hatiku.

Tergambar di dalam benakku kejadian demi kejadian dari mulai awal kami berhubungan. Terbayang semuanya bagaikan film cerita. Tak kusadari aku tengah tersenyum mengenang semua itu. Pernah suatu ketika aku menggodanya dengan bertanya apakah cerita itu benar-benar ia yang membuatnya.
"Nggak percaya ? Mau kubuatkan cerita sekarang ?", tanyanya menantang.
"Boleh, ayo kamu bikin sekarang ...", tukasku sembari bangkit dari tempat duduku dan menarik lengannya.
"Eh, mau kemana ?", tanyanya tersenyum.
"Lho, katanya mau bikin cerita, ayo kita ke komputer, trus kamu ketik cerita itu", ajakku.
"Nggak perlu, kamu duduk aja deh, biar kudongengkan cerita itu ke kamu sekarang", katanya sambil menarikku untuk duduk kembali. Hmm, semakin menarik aja lelaki ini, pikirku dalam hati. Ia kemudian mulai bercerita. Awalnya ia menyebutkan bahwa cerita itu mengenai sepasang manusia berlainan jenis, kemudian ia menyebutkan nama mereka, yang ternyata nama kami berdua. Aku mulai tersenyum. Dan benar juga, ternyata yang dikisahkannya adalah cerita kami berdua. Sambil menatapku ia dengan lancar dan menarik menuturkan kisah itu, bahkan lebih menarik dan lebih hidup dari yang ada dalam bayanganku, hingga aku tak sadar sudah bertopang dagu dan melongo. Apalagi ketika ia menceritakan saat-saat kami berciuman, ahhhh .... begitu mempesona, bagaikan tersihir aku larut dalam kenangan itu dan baru tersadar ketika ia mengecup lembut pipiku. Seharusnya ia lebih pantas menjadi seorang penulis cerita ketimbang pengusaha, pikirku keheranan saat itu. Ahhhh, aku betul-betul rindu padanya, keluhku dalam hati. Akhirnya timbul kesadaran dalam hatiku. Kusadari bahwa tak seharusnya aku bersikap seperti ini. Kusadari ternyata aku telah larut dalam keangkuhan dan kekerasan hatiku hanya untuk sebuah pengakuan. Aku terlalu egois. Biarlah semua terjadi apa adanya, biarkan waktu yang menentukan sendiri, gumamku dalam hati.

Aku baru tertidur ketika jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Begitu pulasnya hingga aku terbangun ketika samar kurasakan belaian di kepalaku. Ketika kubuka mataku kulihat sebuah wajah yang amat kukenal, wajah lelaki yang kurindukan setengah mati semalam. Ia berbaring menyamping di sisiku dengan satu tangan menopang kepalanya.
"Morning ...", bisiknya lembut dengan tersenyum kemudian mengecup pipiku dengan lembut.
"Mmmphh ... jam berapa ini ... ?", tanyaku sambil menggeliat meluruskan badan.
"Jam sepuluh ...", jawabnya.
"Kamu kok ada disini ... nggak kerja ?", tanyaku pura-pura cuek.
"Mestinya aku yang nanya kaya gitu ... kalo aku yang nggak kerja nggak ada yang ngurusin ...", jawabnya sambil tersenyum-senyum.
Aku hanya tersenyum sambil menatap wajahnya. Ia terlihat agak kusam, agaknya ia sudah beberapa hari ini tidak mencukur cambangnya, tapi justru kelihatan garang dan macho.
"Kamu kenapa sih ... ngambek kok sampe dua minggu ... trus tadi pagi aku telpon ke kantor kamu mereka bilang kamu lagi cuti ... ada apa sih ...?", tanyanya dengan lembut.
Ohhh, kelembutan dirinya inilah yang sangat mempesonaku, desahku dalam hati.
"Pengen istirahat aja ... capek kerja melulu ...", jawabku dengan nada yang kusengaja ketus.
"Oooo ... kirain ...", katanya dengan tersenyum menggoda.
"Kirain apa ...?", tanyaku cemberut.
"Kirain ... kamu capek mikirin aku ...", jawabnya dengan senyum yang semakin lebar.
"Iihhh ...", dengan gemas kucubit pinggangnya dengan keras membuatnya mengaduh dan menggelinjang.

Lumer sudah kekakuan yang terjadi selama ini diantara kami berdua. Kami bercanda dan saling mencubit, tertawa bersama, bergiling ke sana ke mari di atas ranjangku. Dan akhirnya kami saling berciuman .... Bagaikan melepas dahaga, tak puas-puasnya kami mengulang dan mengulang lagi ciuman itu, sambil bergulingan, terkadang ia menindihku, terkadang aku yang menindihnya. Aku berusaha untuk lebih sering menindihnya saat itu, karena kurasakan di saat aku berada di atas tubuhnya maka kedua tangannya dengan leluasa menjalar, mengusap dan meremas di sekujur punggung dan bongkahan pantatku dari balik kemeja kedodoran yang kukenakan. Aku memang terkadang biasa tidur dan merasa nyaman dengan memakai kemeja dengan ukuran besar dan kedodoran tanpa mengenakan apa-apa lagi di dalamnya. Ciuman itu semakin menggila hingga tak kusadari bagian bawah kemejaku sudah naik ke atas dan membuat seluruh bagian bawahku telanjang. Birahiku mulai memuncak ketika kurasakan betapa bagian terlarang milikku terganjal oleh sesuatu yang membonggol dari balik celananya. Terkadang sesaat tak kusadari aku menggoyangkan pinggulku untuk menggesekkan bonggolan itu ke milikku lebih keras lagi sebelum akhirnya aku tersadar dan menghentikannya. Dan akhirnya, seperti yang sudah-sudah, kami menghentikan cumbuan itu sebelum berkelanjutan lebih jauh. Lebih tepatnya ia yang mengendalikan diriku untuk menghentikannya ketika ia menghalangi diriku untuk menindihnya lagi.

Kami bertatapan mata, diam seribu basa mengatur napas kami yang terengah-engah.
"Sana mandi dulu ... bau ...", candanya memecah keheningan kami.
"Iiih ... sorry ... kali kamu aja yang bau ... udah berapa hari tuh nggak mandi ...", balasku. Aku kemudian bangkit dan turun dari ranjang bersiap-siap untuk mandi. Sembari berjalan ke kamar mandi kuperhatikan ia yang tengah berbaring di ranjangku. Saat itu ia nampak sexy sekali, mengenakan t-shirt ketat yang membuat seluruh otot-otot di badannya tercetak sempurna dan celana panjang yang dipakainyapun berpotongan ketat sehingga bonggolan dari batang kejantanannya yang mengeras itu tak tertutupi. Darahku berdesir melihat itu semua, uuhhh, gemas rasanya .... saat itu ingin sekali rasanya kuremas-remas bonggolan itu. Sebelum masuk ke kamar mandi aku menghampiri dan mengecup bibirnya sesaat. Tetapi disaat aku menarik kepalaku ia malah mengikutinya dan berusaha membuat ciuman itu tak terlepas, demikian akhirnya ia terduduk dan bahkan turun dari ranjang dan berdiri. Akhirnya sambil berjalan ke kamar mandi kami berciuman dengan dahsyat lagi. Satu hal yang kusadari yaitu hasrat nafsunya yang sepertinya begitu tinggi hari itu. Saat itu sepertinya ia mudah sekali terangsang dan merangsang diriku yang sebenarnya sudah sangat terangsang. Dan yang membuatku melamun lama di dalam kamar mandi adalah ketika sebelum masuk ke kamar mandi ia mencumbuku dengan dahsyatnya hingga kemeja kedodoran yang kupakai pun habis dipretelinya. Ia nampak bernafsu sekali saat itu, ditubruknya diriku ketika hampir mencapai pintu kamar mandi, ia terus merangsek dan menghimpit diriku hingga tersandar di pintu kamar mandi yang masih tertutup itu. Bibirnya melumat habis seluruh wajah, bibir, leher dan telingaku. Pinggul dan pantatku pun tak lepas dari belaian dan remasan kedua tangannya. Aku hanya mampu memeluknya erat-erat dan menggelinjang kesana kemari. Salah satu kakiku dengan tak kusadari sudah naik dan menjepit pinggangnya. Pinggulnya bergerak-gerak menggesekkan bonggolan dari balik celananya itu ke selangkanganku, sementara bibirnya semakin turun ke bawah mengecupi pangkal payudaraku. Ahhhh, kalau saja tak malu hampir saja ingin kupreteli celananya dan memaksanya untuk menyetubuhiku saat itu. Adegan itu usai ketika secara tak sengaja tubuhku menekan handle pintu kamar mandi dan membuatnya tiba-tiba terbuka, hampir saja kamu berdua terguling ke lantai. Kami tertawa bersama menyadari keadaan itu.

Usai mandi dan berganti pakaian aku sarapan ditemani olehnya. Kuminta ia untuk menemaniku seharian penuh dan tidur di rumahku nanti malam. Ia menyetujuinya, memang ini bukan yang pertama kali baginya, sudah beberapa kali ia menginap di rumahku. Aku memiliki sebuah kamar kosong yang memang sengaja kuperuntukkan jika ada keluarga atau tamu yang datang menginap, ia biasa tidur di kamar itu jika menginap di rumahku. Seharian kami lebih banyak bercanda dan bercumbu di rumah, pergi supermarket untuk membeli makanan dan minuman dan kembali ke rumah. Hari itu libido kami tampaknya sedang pada puncaknya. Aku sepertinya ingin selalu berdekatan dengannya. Terkadang aku duduk di pangkuannya bermanja-manja. Entah kusadari atau tidak yang jelas saat itu aku benar-benar menebar sex appeal-ku kepadanya. Apa yang kupelajari darinya saat itu kuterapkan kepadanya. Iapun menyadari hal itu dan dengan nada bercanda mengatakan, "Senjata makan tuan ....". Saat itu kukenakan kemeja sutra putih, celana dalam model thong berwarna hitam dan tanpa bra. Sengaja kubuka dua kancing teratas hingga menampakkan belahan buah dadaku, aku merasa benar-benar sexy. Kemeja dari kain sutra itu begitu pas jatuhnya dan mengikuti alur tubuhku, sehingga puting buahdadaku yang sudah mengeras itu terpampang menonjol dari baliknya. Bagian bawahnya hanya menutupi sejengkal dari pangkal pahaku. 

Semakin malam diriku semakin menggila menahan nafsu birahi yang dipompakannya ke diriku sejak dari siang tadi dan serupa dengan diriku kuperhatikan wajah dan matanya terus menerus memancarkan bias-bias birahi, berkali-kali kulihat batang kemaluannya semakin mengeras dan menonjol dari balik celananya. Akhirnya hasrat itu meledak dan tak tertahankan lagi ketika kami bercumbu lagi di kamarku.
"Tidurlah dikamarku malam ini ....", pintaku sambil menggeliat menahan gelinya   kecupan bibirnya di leherku.
"Jangan .... aku nggak bisa nahan diri nanti .... hari ini kita sudah berulang kali nyaris keterusan ...", bisiknya.
Hmmm, mulai lagi, pikirku gemas dalam hati. Dengan gemas kutindih tubuhnya, kulumat bibirnya, kupilin lidahnya yang menerobos masuk kedalam mulutku, kukecup dan kujilat batang lehernya .... membuatnya mendesah ... Perlahan dengan sedikit susah payah kubuka t-shirt yang dikenakannya dan sesaat kemudian aku sudah membenamkan wajahku di dadanya .... bibirku menelusuri dan mengecup dada bidang yang berbulu lebat itu. Walaupun aku belum pernah berhubungan sex dalam arti yang sebenarnya, namun dari segala macam teori yang kupelajari darinya aku tahu bagaimana membuat seorang pria merasa di sorga dalam pelukan dan cumbuanku. Kukecup perlahan puting dadanya dan sesaat kemudian kelumat dengan lembut dan kuhisap perlahan-lahan ... ia menggeliat ... kudengar suara erangan dari mulutnya ... Belum lama kuperlakukan ia seperti itu, tiba-tiba ia menarik kepalaku untuk menjauh dari dadanya dan membalik tubuhku untuk berada di bawahnya. Ia menatapku dengan penuh nafsu, wajah putihnya itu sedikit memerah.

"Aku bisa gila kalau kamu terus kaya gini ... aku nggak tahan ....", pintanya dengan nada yang aku tak tahu artinya.
"Tak ada yang menyuruhmu untuk menahannya ... aku juga ...  aku ... please ... sudah terlalu lama aku siap untuk ini ... lakukanlah ... demi apapun kau anggap hubungan kita ... please ...", pintaku terbata-bata memohon kepadanya. Hanya satu yang ada di pikiranku saat itu, malam ini aku harus menikmati sex dalam arti yang sebenarnya, seperti yang kubaca dalam cerita yang ditulisnya di CCS, malam ini aku harus memilikinya seutuhnya, apapun yang terjadi nanti, apapun kelanjutan hubungan kami  ...

Ia memulai dengan mengecup lembut bibirku, sesaat kemudian ia duduk berlutut di kedua pahaku, dengan tangan sedikit gemetar ia membuka satu persatu kancing bajuku. Setiap kali membuka sebuah kancing ia menatap wajahku, seolah mencari pembenaran dari tindakannya. Aku hanya terdiam dan pasrah memperhatikan semua tindakannya. Usai mempreteli seluruh kancing bajuku kedua tangannya berpindah dan bertengger di bahuku, perlahan-lahan kemudian ia mulai membelai dan sesekali meremas ... achhh ... aku hanya bisa memejamkan mataku dan menikmatinya. Kurasakan kemudian kedua tangan bergerak turun membelai pangkal dadaku ... semakin turun ... buah dadaku ... achhhh ... betapa nikmatnya ketika jemari tangannya mengusap puting dadaku yang sudah mengeras itu. Belaiannya semakin turun ... dan perlahan-lahan melolosi celana dalamku ... tubuhku tergetar ketika jemarinya mengusap kewanitaanku .... diangkatnya kedua kakiku hingga celana dalam itu terlepas .... Sesaat kemudian ia mengecup dan melumat jemari kakiku ... dan bergerak semakin ke atas ... bulu di seluruh tubuku mulai meremang ... Aku semakin tak kuasa untuk memperhatikan apa yang dilakukannya, aku mulai memejamkan mata ketika kecupan dan lumatan bibirnya berada di sekitar buah dadaku ... tubuhku terguncang dan menggeliat ketika ia menjilat, melumat dan menghisap puting dadaku perlahan-lahan ... ahhhh ... nikmat sekali ... Tubuhku serasa perlahan-lahan melambung ke awan ...  Semakin lama semakin menggila kenikmatan yang diberikan oleh bibirnya yang lihai itu ... dan akhirnya aku tersentak ketika kurasakan sesuatu yang hangat di daerah kewanitaanku ... Ouchhh, inilah saatnya, pikirku.

Kubuka mataku, untuk memastikannya tak gagal untuk yang kedua kalinya. Sedikit terkejut ketika tak kulihat wajahnya, aku berusaha menunduk untuk melihat apa yang sedang dilakukakannya di daerah kewanitaanku. Ahhhh ... kulihat ia menatapku sembari mukanya terbenam di selangkanganku ... Ouuchh ... meremang bulu kudukku ... kurebahkan lagi kepalaku dan kupejamkan mataku ... menikmati sesuatu yang baru pertama kali kurasakan, yang membuat kedua kakiku secara otomatis semakin terbuka lebar. Aku sudah tak mampu lagi mengetahui apa yang sedang dilakukannya dan bagian mana dari kewanitaanku yang sedang dikerjainya, yang kutahu hanyalah sebuah rasa nikmat yang sukar kulukiskan dengan kata-kata. Kembali tubuhku serasa ringan dan melambung tinggi ... dan semakin tinggi hingga kurasakan sesuatu terasa menekan kewanitaanku dengan kuat. Kubuka mataku, kulihat wajahnya tepat di atas wajahku, sebuah wajah yang telah penuh nafsu. Ia mengecup bibirku perlahan dan sesaat kemudian kembali kurasakan sesuatu menekan di bibir kewanitaanku. Ouchh .... inilah saatnya, pikirku. Jantung berdegup dengan kencang. Ia tampaknya kesulitan untuk membenamkan batang kejantanannya. Ia kemudian bergantian menarik kedua kakiku hingga lututku berada di sisi pinggangnya. Berikutnya kembali ia berusaha membenamkannya. Nampaknya dengan posisi kakiku yang seperti itu membuahkan hasil, perlahan kurasakan sesuatu mulai menerobos masuk ke dalam liang kewanitaanku. Semakin lama kurasakan serasa membelah bagian bawah tubuhku. Luar biasa sensasi yang kurasakan saat itu, nikmat, sakit dan serasa penuh campur aduk jadi satu. Kupejamkan mataku dan memeluknya dengan erat. Dari tanganku dapat kurasakan goyangan tubuhnya yang naik turun. Rasa nikmat mulai menjalar dari selangkanganku dan menyebar ke seluruh tubuhku.

Beberapa saat kemudian, ditengah kenikmatan yang semakin menderas, tiba-tiba kurasakan rasa pedih di bagian kewanitaanku, namun rasa pedih itu hanya sesaat dan berganti rasa sesak yang begitu mengganjal di bagian kewanitaanku, sesuatu benda yang besar yang tak lain adalah batang kejantanannya, menggelosor masuk perlahan-lahan, semakin dalam dan semakin dalam hingga akhirnya berhenti dan menyungkal seluruh dinding kewanitaanku. Luar biasa, napasku sampai tersengal-sengal menyadari semua ini. Tak lama kemudian kurasakan tubuhnya kembali bergerak naik turun dan yang kurasakan akibatnya adalah liang kewanitaanku bagaikan dibetot keluar dan berikutnya ditekan ke dalam, tentu saja nikmatnya bukan kepalang. Entah berapa lama kenikmatan itu berlangsung. Entah berapa kali aku merintih, mengerang, mendesah, mendesis dan meneriakkan namanya. Tubuhku serasa semakin lama semakin melengkung, seolah kepala dan selangkanganku akan bertaut. Hingga akhirnya kurasakan suatu kenikmatan yang luar biasa, bagaikan air bah, menderas keluar dari tubuhku. Alam pikiran entah melambung kemana. Kesadaranku kembali ketika perlahan kurasakan berat tubuhnya yang menindih tubuhku. Ketika kubuka mataku kulihat wajahnya dengan senyum tersungging di bibir dan sesaat kemudian kami berciuman dengan mesra sekali sebelum ia menggelosoh turun dan rebah di sisi tubuhku. Sambil saling berpelukan kami menikmati sisa-sisa kenikmatan yang masih terasa. Sedikit rasa ngilu kurasakan di bagian kewanitaanku. Kami terdiam tanpa kata-kata dan akhirnya aku tertidur.

-----
Okay Mas Wiro, segini dulu, nanti aku sambung lagi yach.

Aku sangat menghargai pembaca yang ingin bersahabat dan berbagi masalah denganku. Wanita lebih saya sukai. No junk email please.
(
nindya_agita@hotmail.com)


KISAHKU 1990 - 1995
From: "------- -----" <-------@------.net>
Date: Thu, 29 Apr 1999 10:29:28 +0700


Mas Wiro,

Saya nggak ngikut lomba ya, tapi cuman ngirim ceritera aja, terimakasih.

Namaku Ika, aku berasal dari Jember sebuah kota di Jawa Timur, saat ini aku berusia 27 tahun, lulusan dari suatu universitas negeri dikota Semarang. Saat ini aku sudah menikah dan tinggal di Denpasar. Suamiku bekerja disebuah Asuransi BUMN, jadi setiap hari aku hanya ditemani pembantu serta komputer yang menyebabkan aku jadi tidak kesepian lagi. Setiap saat aku bisa akses kemana mana termasuk ke situs cerita biru antara lain Cerita-Cerita Seru™. Lama kelamaan timbul keinginanku untuk menceritakan pengalamanku yang aku rasa indah sekali dan mungkin anda sekalian ingin mengetahuinya. Jikalau dalam ceritaku ini ada urutannya yang jungkir balik, mohon dimaafkan, karena awal kejadiannya sudah cukup lama. Aku sendiri coba menyusun kisah nyataku ini sejak akhir 1997, berkali kali aku koreksi dan rubah agar sesuai dengan kenyataan yang aku alami. Ada beberapa moment yang bisa kuceritakan secara detail, karena aku tak akan pernah melupakan moment tersebut, namun juga ada yang aku ceritakan hanya selintasan.

***

Menjelang akhir kuliahku ditahun 1990, aku berusaha mencari pekerjaan, disamping untuk mencari pengalaman, aku juga ingin mendapatkan tambahan uang saku. Untunglah berkat kebaikan seorang dosen, maka aku berhasil bekerja disebuah perusahaan pengangkutan. Bossku orangnya sangat baik, dia dengan telaten mengajariku apa yang harus kulakukan, demikian juga aku tetap diberinya kesempatan untuk meninggalkan pekerjaan guna kuliah. Tetapi dari pandangannya serta kata katanya, aku tahu kalau sejak awal bossku ini menginginkan aku. Tetapi aku acuh saja, karena disamping aku masih perawan, aku juga sudah punya pacar kakak kelasku yang berasal dari luar pulau. Tetapi semua ini tidak membuat bossku jadi sakit hati, dia malahan memberi aku fasilitas sepeda motor serta sering sekali dia memberi uang tambahan disamping uang gajian yang selalu aku terima, semua ini membuat hidupku jadi berlebihan, malahan aku sekarang mampu untuk tampil lebih cakep, karena aku punya duit cukup untuk membeli kebutuhan kebutuhanku.

Setiap kali aku dipanggil bossku dikantornya, pembicaraan kami selalu mengarah kepada masalah seks, bossku seringkali menanyakan apakah aku masih perawan yang selalu kujawab dengan sejujurnya, dia tak pernah berusaha untuk menggangguku, hanya cerita cerita tentang pengalamannya mengenai seks seringkali membuat aku panas dingin dan selalu ingin mendengarnya lagi. Setiap kali mendengar cerita yang merangsang itu aku selalu merasa ingin kencing dan biasanya kemaluanku menjadi basah kuyup. Namun semua ini tak pernah diketahui oleh bossku, hanya saja begitu sampai dirumah kulampiaskan nafsuku itu pada pacarku dengan berciuman dan membiarkannya meremas remas buah dadaku dan akupun meremas remas kemaluannya sampai dia mengeluarkan spermanya. Oh ya, aku tinggal dirumah kontrakan, jadi aku bebas untuk berpacaran. Aku sebenarnya sangat ingin merasakan enaknya persetubuhan yang sering aku dengar dan belakangan ini selalu diceritakan oleh bossku padaku, tetapi pacarku tidak berani memerawaniku, meskipun seringkali kurayu dan bahkan pernah aku membeli kondom agar dia mau memakainya, tetapi dia selalu menolak karena takut kalau aku hamil.

Siang itu suasana dikantorku sepi sekali, karena biasanya pada hari Senin semua karyawan pria kebanyakan keluar untuk mengambil laporan dari cabang cabang, aku sendiri juga agak santai bekerja karena semua pekerjaan sudah habis dikerjakan pada hari Sabtu dan saat ini aku tinggal menunggu laporan baru dari cabang yang belum datang juga. Saat itu tiba tiba bossku memanggilku keruangannya, aku tersenyum sendiri mendengar panggilan bossku ini, karena seperti biasanya bilamana keadaan sepi, maka dia selalu memanggil aku atau karyawati yang lainnya untuk diajak omong omong soal seks. Aku bergegas naik keruang atas tempat kantor bossku. Tanpa mengetuk pintu lagi aku langsung masuk dan duduk didepan mejanya. Dia langsung bertanya apakah saat itu aku mens, ketika aku jawab tidak, dia berkata lagi bahwa saat itu dia sedang bernafsu sekali, karena tadi malam dia tak sempat berhubungan seks dengan isterinya yang sedang mens. Aku tertawa geli dan menanyakan mengapa dia tak masturbasi saja, seperti yang sering dia lakukan didepanku. Dia berkata serius, bahwa kali ini dia kepengen aku yang melakukannya dan untuk itu dia akan memberi aku hadiah yang menggembirakan. Melihat aku ragu ragu, bossku segera berdiri dari kursinya dan menuju pintu serta menguncinya, dia mengeluarkan kemaluannya yang sudah tegang itu kehadapanku. Dengan agak gemetar aku memberanikan diri untuk berjongkok didepan kemaluan bossku dan memijat mijatnya, bossku menggeliat keenakan dan tangannya mulai mengembara menyelusupi bajuku dan ikut meremas remas buah dadaku. Aku jadi ikut terangsang sehingga aku bangkit berdiri dan menempelkan badanku kebadannya untuk menahan rasa geli itu. Merasa mendapat angin, bossku merogoh buah dadaku dari balik blouseku dan memasukkan tangannya kedalam behaku. Remasan remasan kasar disertai cubitan cubitan pada puting buah dadaku membuat aku menggelinjang dan mendesah. Dengan pelahan bossku mendorongku kearah meja kerjanya dan membaringkan aku disitu, sementara tanganku masih terus mengocok kemaluannya yang terasa makin panas itu. Ketika aku sudah terlentang diatas meja kerja yang masih bertebaran buku dan kertas itu, bossku membuka blouseku dan merenggut behaku sehingga buah dadaku yang sudah kaku keras itu sepertinya melompat keluar. Tanpa ragu ragu bossku mengulum puting buah dadaku yang mengeras seperti kerikil itu, aku memejamkan mata dan menggigit bibir menahan rasa geli yang membuat tubuhku berkeringat serta vaginaku jadi geli sekali itu. Saat itulah tanpa kuduga bossku melenguh keras dan air maninya berhamburan menyemprot kelantai. Dari pengalamanku mengocok kemaluan pacarku, maka aku terus mengocok sampai semprotannya habis, barulah kuurut kemaluan bossku sampai tuntas air maninya. Karena malu, setelah bossku menumpahkan air maninya, aku segera membenahi pakaianku dan duduk dikursi disofa dekat meja kerja bossku. Bossku sendiri dengan gemetar merapikan celananya serta tersenyum penuh kepuasan, aku bertanya apakah dia sudah puas, dia hanya menjawab dengan anggukan kepala. Ketika aku minta ijin untuk kembali kemejaku, bossku tak melarang bahkan dia sempat menciumku serta menyelipkan uang ditanganku. Setelah keluar dari ruangan bossku kulirik uang yang ditanganku ternyata beberapa lembar uang limapuluh ribuan. Aku bergegas turun mumpung tak ada temanku yang dibawah. Aku masih terus membayangkan rasa nikmat yang tadi diberikan oleh bossku itu, rasanya tak mau hilang juga, ketika kuraba pangkal pahaku, kurasakan celana dalamku basah kuyup. Aku sudah tak sabar lagi menunggu jam empat sore, agar supaya bisa cepat pulang dan mengajak pacarku untuk main ( kalau dia mau )

Namun seperti yang lalu lalu, aku menikmati cumbuan cumbuan yang membuat aku klimaks, tapi tanpa hubungan seks yang sebenarnya sangat aku dambakan itu. Tak kusangka bahwa pacarku demikian alim dan setia menjaga kesucianku, padahal aku sendiri yang menawarkan tubuhku, tetapi dia bersikeras menolaknya. Kadang kadang aku merasa malu juga dengan hal ini, tetapi mungkin sudah dari sononya pacarku memiliki iman yang kuat, berbeda denganku yang imannya lemah itu.

Ceritaku terpaksa melompat kedepan, karena ternyata setelah pacarku lulus kuliah, dia pulang ke Sumatera dan melupakan aku. Sebenarnya aku sudah berniat untuk menyusulnya ke Medan, tetapi suratku yang memberitahu kalau aku akan kesana tidak dibalasnya. Lama kelamaan hatiku jadi tawar dan patah hati menghadapi kekecewaan ini. Pacarku yang ganteng, baik hati dan setia, akhirnya meninggalkan aku tanpa berani berterus terang kalau disana dia sudah dijodohkan dengan cewek sesukunya ( hal ini aku dengar dari beberapa temannya yang mengetahui hal ini ). Aku merasa sangat sedih dengan kejadian ini, namun sejujurnya saja, kesedihanku tak lama, karena disamping bossku makin sering mencumbu aku, bahkan sekarang dia sudah kuijinkan untuk menjilati vaginaku. Dalam hal yang satu ini bossku sangat akhli sekali, dia sanggup menjilati vaginaku nonstop hampir 1 jam yang membuatku orgasme berkali kali. Meskipun demikian, sampai saat itu aku masih tetap perawan karena aku memang nggak mau kalau diajak yang satu itu. Soal ngisep kemaluanpun aku sudah pandai, bahkan aku sudah berani menelan sperma bossku. Hampir setiap kali ada kesempatan, bossku selalu memanggil aku kekantornya dan kita melakukan oral seks bergantian, karena kuatir ketahuan oleh orang, maka kami melakukannya tanpa telanjang bulat. Biasanya kalau bossku memanggil keatas, aku mampir dulu kekamar mandi dan melepas celana dalamku, diatas aku hanya tinggal menyingkap rok miniku dan siaplah vaginaku untuk disantap oleh bossku. Setelah puas menjilati vaginaku, biasanya aku langsung menghisap kemaluan bossku sambil mengocoknya, dalam tempo 5 menit bossku sudah muntah muntah, bila aku sedang mood, maka sperma itu aku telan, kalau lagi malas biasanya aku buang dikertas tissue. Kalaupun suasana sedang sibuk, maka biasanya bossku hanya meremas remas buah dadaku saja, dia kadang kadang cukup puas hanya dengan melihat buah dadaku atau vaginaku, tanpa menyentuhnya. Kupikir setelah aku turun, pastilah dia onani sambil membayangkan "barangku" itu. Belakangan aku mendapat teman kerja baru, seorang wanita bernama Nuning, anaknya gemuk dan cantik. Meskipun dia juga sering dipanggil keatas juga oleh bossku, aku tidak pernah berani bertanya macam macam, karena hubunganku dengan dia belum akrab sekali. Yang kuketahui, kalau dia memang ada main dengan bossku, pastilah mereka bersetubuh, karena Nuning ini sudah bersuami. Setiap kali aku "turun" dari atas, Nuning hanya tersenyum senyum saja, yang aku nggak mengerti maksudnya, tetapi lama kelamaan aku yakin bahwa sebenarnya Nuning juga mengerti apa yang aku lakukan dengan bossku diatas itu, tetapi diapun tak pernah bertanya seolah oleh tahu sama tahu saja.

Dalam kesepianku ditinggal pacarku, banyak juga teman teman mahasiswa yang mencoba untuk mendekati aku, tetapi semuanya aku tolak, karena secara naluriah aku sudah punya standard, dan ternyata mereka yang mencoba mendekati aku itu standardnya jauh dibawah ex-pacarku itu. Didekat rumah kontrakanku, ada seorang mahasiswa yang baru semester 2 ( aku saat itu sudah semester 8 ) namanya Prima. Posturnya kecil, dengan wajah yang manis dan selalu tersenyum. Dia selalu main ketempatku dan bercerita macam macam, yang selalu membuat aku senang. Salah satu hal yang aku sukai dari Prima adalah : kota asalnya, dia juga berasal dari Medan seperti pacarku dulu. Aku selalu menanggapi semua ocehan Prima yang pinter omong itu, apalagi kalau dia sudah cerita soal seks, nggak beda dengan bossku, pengalamannya cukup hebat, bahkan yang membuat aku sangat terangsang, dia melakukan semua itu dengan teman teman sekampusnya yang usianya sepantaran dengan aku. Kalau bossku menceritakan pengalamannya dengan gaya bahasa yang halus, Prima sebaliknya, dia menceritakan pengalamannya dengan bahasa yang vulgar dan terbuka sekali, justru ini yang aku sangat suka. Aku suka sekali jika ada cowok yang ngomong, jorok jorok. Vaginaku selalu terasa panas dan becek setiap kali Prima bercerita. Prima juga seringkali tanya pengalamanku, terus terang kukatakan pada dia kalau aku masih perawan. Karena rasa ingin tahuku, pernah kuminta Prima untuk menunjukkan kemaluannya kepadaku, tanpa malu malu dia mengeluarkan kemaluannya dari balik celana jean yang dipakainya. Aku terkikik melihat kemaluannya yang sudah tegang dan kaku sekali itu. Meskipun aku hanya tertawa dan menyuruhnya cepat cepat memasukkannya kembali, aku sempat membandingkannya dengan kemaluan pacarku atau kemaluan bossku yang pernah aku pegang dan hisap itu. Kelihatannya kemaluan Prima lebih hebat dari kemaluan bossku maupun kemaluan pacarku, batangnya lebih panjang dan lurus, yang hebat adalah kepala kemaluannya yang sangat besar sekali, sehingga kelihatan seperti jamur. Primapun tahu kalau daya tarik kemaluannya adalah ujungnya yang besar dan tak seimbang dengan batangnya yang agak ramping itu. Katanya, kalau cewek kena ujung kemaluannya, pasti menjerit jerit. Kurang ajar sekali Prima ini !

Siang itu, aku benar benar dirangsang habis habisan oleh bossku, bahkan dia sempat menggeser geserkan kemaluannya kebibir vaginaku, rasanya geli sekali, gara garanya dikantor sepi sekali sehingga kami bisa bercumbu sambil telanjang bulat. Badanku habis diciumi dan dijilati bossku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Untunglah bossku masih konsekwen pada janjinya, kalau dia nggak akan memerawani aku. Tapi inilah akibatnya... pulang sore hari badanku rasanya ngilu semua, birahiku belum tuntas. Aku sudah berencana nanti dirumah aku akan masturbasi saja, meskipun sebenarnya aku jarang melakukannya sendiri. Selama ini kalau bukan bossku ya ex pacarku yang merangsang kelentitku sampai aku orgasme. Aku pulang kerumah dengan agak ngebut, kupacu sepeda motorku agar cepat sampai dirumah dan bisa segera menuntaskan birahiku yang belum selesai itu. Masih terngiang kata kata Nuning temanku dikantor yang mengatakan, "aku enak Ik, kalau belum puas, suamiku kuperkosa !" Nuning sih sudah bersuami, kalau aku ? Ya terpaksa kerja keras sendiri nantinya.

Sampai dirumah, aku berusaha cepat cepat menaikkan sepeda motorku keteras rumahku, diluar dugaanku, karena tergesa gesa, keseimbanganku hilang dan sepeda motorku roboh. Tanpa sadar aku menjerit, saat itulah Prima melongok dari rumah kos, melihat aku yang kebingungan dia segera lari ketempatku dan menolongku. "Kenapa mbak ? Nggak apa apa kan ?

Aku hanya tersenyum, sementara Prima menolong mengangkat sepeda motorku yang roboh itu. Ketika aku sudah membuka pintu rumah, Prima kumintai bantuan untuk mendorong sepeda motorku kedalam rumah. Kupikir Prima akan segera pulang, karena dia tahu kalau biasanya pulang kerja aku tidur sebentar untuk beristirahat, tapi rupanya ia terus saja duduk dikursi tamu, aku terpaksa juga duduk menemaninya sambil bercerita penyebab aku jatuh tadi. Prima terus menggodaku, katanya aku ngelamun karena kesepian dan macam macam. Aku hanya tertawa tawa, tetapi dalam hatiku mangkel juga karena dia kok nggak cepet cepet pulang, karena aku kepengen cepat cepat masuk kamar dan melanjutkan birahiku sendirian dikamar sambil masturbasi. Agar dia cepat pulang aku sengaja pamit pada Prima kalau aku mau ganti pakaian, eh dia diam saja dan mengangguk angguk sambil mencari bacaan dibawah meja. Terpaksa aku masuk kedalam dan berganti pakaian dikamarku, dalam keadaan telanjang bulat aku meraba vaginaku dengan ujung jariku, terasa hangat dan basah. Merasakan ini aku memutuskan untuk secepatnya mengusir Prima, agar aku bisa melanjutkan kenikmatanku sendirian. Tapi aku baru sadar kalau dasterku nggak ada dikamar, rupanya tadi pagi kuletakkan dijemuran dihalaman belakang. Aku jadi bingung bagaimana caranya untuk mengambil daster itu, ketika kuintip keluar kamar, kulihat Prima masih ada diluar sambil membaca, kuputuskan untuk lari keluar, mengambil daster dijemuran dan cepat cepat kembali kekamar. Dengan berjingkat aku keluar kamar telanjang bulat dan membuka pintu belakang, dengan suara berderit pintu itu terbuka. Aku kaget mendengar suara pintu itu, segera aku lari keluar, menyambar daster dijemuran dan segera lari kembali kekamarku. Aku jadi terkejut karena tanpa kuduga Prima sudah berdiri didepanku sambil menatap tubuhku sambil cengengesan. Kuusir dia keluar, dia menurut saja tetapi dengan lancang tangannya masih sempat menyentuh buah dadaku.

Aku masih berdebar debar karena malu kelihatan oleh Prima dalam keadaan telanjang bulat tadi, tapi entah mengapa pikiranku jadi melantur juga : kubayangkan bagaimana rasanya "tongkat wasiat" milik Prima yang bentuknya seperti jamur itu. Setelah kupakai celana dalam dan dasterku, akupun keluar lagi, namun aku jadi kaget sekali karena kulihat Prima sedang asyik mengocok kemaluannya dengan wajah yang menyeringai keenakan. Melihat aku, Prima memanggil dan menyuruh aku duduk sementara tangannya tidak berhenti mengurut urut kemaluannya sendiri. Aku hanya terdiam saja melihat semua ini, yang aku kuatirkan saat itu, kalau kalau ada tetangga atau orang lewat dan melihat tingkah laku Prima, pasti akan jadi ribut. Untunglah rumahku agak menjorok kedalam ditambah lagi dengan teras yang cukup besar sehingga tak mudah bagi orang lewat untuk melihat apa yang terjadi didalam. Namun kuminta juga Prima untuk menghentikan tingkahnya dan supaya segera pulang, tetapi kebalikannya, Prima malah mendekati aku dan memeluk aku sambil berbisik bahwa dia begitu terangsang karena melihat tubuhku dalam keadaan bugil tadi itu. Dia minta ijin untuk boleh melihat lagi. Aku menolak permintaan Prima sambil mendorong tubuhnya, namun Prima yang sudah terangsang tak perduli dengan sikapku itu, ia malahan nekad menyingkap dasterku sehingga pahaku jadi terpampang didepannya yang langsung dia sambar dan dia ciumi serta jilati. Tangan Prima juga meremas buah dadaku yang tak terbungkus beha itu. Selama ini Prima memang sering berbuat nekad didepanku, misalnya bicara yang porno porno, menyindir buah dadaku yang katanya besar dan lain lain, tetapi dia tidak pernah berani menyentuh tubuhku sedikitpun. Kali ini dia betul betul nekad, tetapi memang rejeki Prima, aku sendiri saat itu lagi butuh kenikmatan juga, apalagi tanpa sengaja Prima sudah langsung menemukan pusat rangsanganku yaitu buah dadaku. Aku langsung menggeliat ketika remasan Prima menyentuh puting buah dadaku, aku hanya berdiam diri saja membiarkan semua ulah Prima itu, kepalaku kusandarkan kekursi dan tanganku mencakar sofa menahan rasa geli. Prima sendiri terus menggunakan tangan kirinya untuk mengocok kemaluannya sementara tangannya yang kanan aktif meremas remas buah dadaku. Rupanya sikapku yang diam membuat Prima makin nekad, dia berhenti mengocok kemaluannya dan berdiri serta menyingkap dasterku keatas, dimasukkannya tangannya kedalam celana dalamku dan diremas remasnya bukit vaginaku yang penuh bulu itu, malahan satu jarinya menyelinap menggosok kelentitku. Tanpa sadar aku jadi merenggangkan pahaku merasakan kegelian yang ditimbulkan oleh remasan remasan Prima itu, ketika Prima berusaha menarik celana dalamku, aku malahan mengangkat pantatku sehingga Prima dengan mudah dapat melepasnya. Prima dengan rakus menciumi vaginaku dan menjilati bulu kemaluanku yang rimbun itu. Ketika kularang dia, karena aku belum mandi dan bau, dia malahan meregangkan pahaku lebih lebar serta mulai menjilati kelentitku. Merasa kurang leluasa, Prima berjongkok didepanku, kemudian ia mengangkat kedua pahaku tinggi tinggi sehingga vaginaku menjungkit keatas. Jilatan jilatan Prima membuat aku jadi mabuk kepayang, selama ini sudah seringkali aku merasakan jilatan laki laki pada vaginaku, tetapi semuanya tidak semantap jilatan Prima yang begitu kasar. Aku mengerang keras ketika kurasakan kontraksi dari dalam vaginaku, kurasakan cairan dari dalam vaginaku mengalir keluar tetapi semuanya dijilati oleh Prima sampai kering. Orgasmeku benar benar nikmat !!! Prima yang masih kesetanan terus menjilati kelentitku serta bibir vaginaku yang rasanya sudah tebal itu. Jilatan Prima membuat vaginaku terasa ngilu, kudorong kepalanya dan kuraih kemaluannya. Karena terburu buru Prima sempat menjerit kesakitan karena kemaluannya terasa sakit, aku tak perduli. Langsung saja kungangakan mulutku lebar lebar agar supaya ujung jamur Prima yang coklat tua itu bisa masuk kemulutku. Prima merintih pelahan ketika bibirku merapat dan kukenyot ujung kemaluannya itu. Kugenggam batang kemaluan Prima sementara lidahku asyik menjilati seluruh batang kemaluan Prima sampai kepelirnya yang menggelantung itu. Prima rupanya kurang suka dijilati, dia menarik kepalaku agar supaya kembali menghisap kemaluannya itu. Kuturuti saja kemauan anak ini, begitu kemaluannya masuk kedalam mulutku, dengan sadis Prima memegang kepalaku dan memaju mundurkan kemaluannya didalam mulutku itu. Posisinya yang berdiri sementara aku duduk membuat Prima dengan mudah melakukan gerakan tersebut. Kuremas remas pantat Prima sambil sesekali kugelitik buah pelirnya. Ketika kurasakan gerakan Prima mulai mengejang ngejang, aku tahu kalau sebentar lagi dia akan menyemprotkan air maninya. Benar saja, badan Prima melengkung sementara kedua tangannya menekan kepalaku sehingga batang kemaluannya menyodok pangkal rongga mulutku, saat itu kurasakan cairan hangat dan kental menyembur nyembur didalam mulutku, sementara Prima menyemburkan air maninya sengaja aku menggelitik pelirnya agar supaya dia makin merasakan nikmat dan geli yang sensasional. Kutelan semua air mani Prima, tapi saking banyaknya, ada juga yang keluar dari mulutku dan langsung saja aku lap dengan baju Prima sendiri. Tanpa bicara ba-bi-bu, aku langsung lari masuk kekamar mandi dan membiarkan Prima sendirian. Aku mandi cepat cepat disamping untuk menutupi maluku pada Prima, aku juga kepengen membayangkan kenikmatan yang diberikan Prima itu secara diam diam. Ketika kudengar Prima mengetuk pintu kamar mandi dan minta pamit, aku hanya berteriak mengiakan saja. Inilah awal dari affairku dengan Prima, karena sejak sore itu Prima makin menjadi jadi kenekadannya.

Prima memang termasuk anak ndableg, malam itu juga dia sudah berani nongol dirumahku sambil cengar cengir kayak monyet ( tapi monyet putih yang ganteng ). Sambil duduk duduk diteras, Prima mengatakan kalau sebenarnya sudah sejak lama dia tertarik padaku, aku hanya tertawa saja dan kukatakan bahwa nggak pantas dia pacaran dengan saya karena umurnya masih muda dan penampilannya lebih cocok jadi adik saya daripada pacar. Tetapi Prima, dengan gigih terus berusaha merayu saya, dalam kegelapan teras depan rumah, dia terus terusan menciumi leher dan meremas buah dadaku, gila sekali anak ini pikirku, tetapi sejujurnya saja aku juga menikmati semua ini. Aku yang sudah lama tak merasakan belaian kasih yang sebenarnya, sekarang jadi terlena dengan rayuan Prima anak muda yang begitu gigih merebut hatiku. Tanpa kusadari aku juga kadang kadang balas memeluknya serta kubalas ciumannya dengan penuh nafsu. Malam itu kami saling memuaskan diri sekali lagi, aku benar benar bergairah menikmati cumbuan cumbuan Prima yang kasar dan seenaknya sendiri itu. Yang lucu, esok paginya dengan enteng aku bisa berceritera pada bossku kalau aku tadi malam bercumbu dengan "pacar"ku ( aku tak pernah mengaku kalau Prima itu masih kecil, habis aku malu ), semua ceriteraku membuat bossku jadi bernafsu dan minta dihisap kemaluannya. Jadi sejak saat itu aku kembali melayani dua pria namun sampai sebatas hisap dan jilat saja. Namun seperti kuceriterakan didepan, aku ini mudah dirayu dan pada dasarnya aku memang kepengen merasakan nikmatnya persetubuhan yang sebenarnya, sedangkan Prima begitu aktif merayuku untuk melakukan hal itu. Maka pada suatu hari akhirnya jebol juga pertahananku itu, ceritanya begini.

Masih kuingat hari itu hari Jum'at malam, setelah menjilati vaginaku dan kuhisap kemaluannya ( percaya nggak, kita melakukannya hampir setiap hari, dan juga selalu aku dulu yang dijilati sampai orgasme, baru kuhisap dan kukocok kemaluan Prima sampai keluar juga ) Prima mengajakku untuk menginap diluar kota, tujuannya Tretes. Aku langsung saja mengiakan, dan kita sepakat untuk berangkat Sabtu sore dengan naik sepeda motorku. Aku sudah mengerti bahwa pasti di Tretes nanti Prima akan mengajak aku untuk bersetubuh yang sebenarnya, aku jadi berdebar debar juga menantikan saat itu karena selama ini dirumahku memang kondisinya tak memungkinkan. Kita berangkat ke Tretes sudah agak sore, sampai di Tretes Prima langsung menyewa kamar di villa yang banyak bertebaran di Tretes, aku acuh saja setiap ada orang yang lewat dan melihatku. Aku hanya khawatir kalau bossku ke Tretes dan dia melihat aku disini, wah malunya aku !

Begitu aku dan Prima masuk kamar, Prima langsung menerkamku, dia mengulum bibirku dengan penuh nafsu sementara tangannya memeluk tubuhku erat erat, akupun balas memeluknya dan kami berciuman , saling memagut dengan penuh gairah. Kubiarkan saja ketika tangan Prima mencopoti kancing kancing bajuku dan menariknya lepas, sehingga dalam waktu sekejap aku sudah telanjang bulat. Begitu tubuhku sudah polos, Prima melepaskan ciumannya dan mulai menciumi dan menjilati sekujur badanku, aku menggeliat geliat karena rasa geli, apalagi ketika dengan buas Prima mengulum puting buah dadaku, bagian yang paling sensitip dari tubuhku. Aku menjadi lemas dan rasanya tak kuat untuk berdiri, kulihat buah dadaku yang besar itu mengeras terutama putingnya, Prima juga menggigit serta memberi cupang disekeliling buah dadaku itu, aku merasa lemas sekali, sampai aku berusaha mencari tempat untuk duduk. Satu satunya tempat yang kutemukan hanyalah tempat tidur, disitulah aku duduk untuk menikmati gigitan serta kuluman Prima pada buah dadaku itu. Selama Prima merangsangku, aku hanya terduduk diam sambil memegang kepala Prima, aku tak mempunyai inisiatif apapun. Ketika jilatan Prima menyentuh bulu kemaluanku dan berlama lama menjilatinya, aku tak tahan lagi, kutekan kepala Prima agar dia menjilati vaginaku saja, begitu lidah Prima menyentuh kelentitku, aku langsung terbaring lemah, kurasa juga begitu banyak cairan yang keluar dari vaginaku dan mengalir dipahaku. Saat itulah Prima mulai melepas pakaiannya sehingga telanjang bulat. Bila selama ini kami selalu bermain seks secara mencuri curi, maka baru kali ini kami punya kesempatan untuk melakukannya dengan bebas tanpa kuatir pada siapapun. Rasanya nafsuku begitu besar sehingga ketika kulihat kemaluan Prima yang tegak menantang dengan ujungnya yang seperti jamur itu, aku langsung berdiri dan berjongkok didepannya dan mulai mengulumnya, kumasukkan seluruh batang kemaluan Prima kedalam mulutku, tetapi itu tidak mungkin, karena kemaluan Prima benar benar panjang. Hanya dua pertiga yang berhasil aku telan, itupun terasa sudah nyantol dileherku. Prima berbisik kepadaku agar kemaluannya diberi ludah yang banyak, aku mengerti maksud Prima, karena dia ingin memasukkan kemaluannya itu keliang vaginaku. Setelah kulumuri kemaluannya dengan ludah, kulepas isapanku dan aku kembali berbaring ditepi tempat tidur sambil meregangkan kedua belah pahaku lebar lebar. Dengan agak membongkok, Prima mengarahkan kemaluannya yang tegang kaku itu keliang vaginaku, pertama tama dia menggosok gosokkannya kekelentitku, lalu dicobanya untuk memasukkannya keliang vaginaku yang sudah basah kuyup itu. Aku merasa seperti tak bisa bernafas ketika kurasakan ujung kemaluan Prima terjepit diantara kedua bibir vaginaku itu. Begitu sudah terasa kalau kemaluannya dijepit bibir vaginaku, Prima menelusupkan kedua belah tangannya kebawah pantatku dan sambil mengangkat pantatku, Prima menusukkan kemaluannya keras keras dan.. .------- blessss... --------- aku menjerit kesakitan, karena terasa seakan akan vaginaku robek oleh desakan kemaluan Prima itu. Aku menjengit kesakitan, dan meronta, melihat gerakanku itu, Prima menunduk dan mencium bibirku dan berbisik "tahan mbak, sebentar lagi juga enak lho !" Aku mencoba untuk menahan rasa sakit itu, sementara Prima terus berusaha mendesakkan kemaluannya kedalam liangku yang masih sempit itu. Kugigit pundak Prima karena rasa tegangku, kupeluk dia erat erat sambil kulingkarkan kedua kakiku kepantatnya, sampai tiba tiba kurasakan ujung kemaluan Prima menyentuh leher rahimku yang paling dalam. Kusuruh Prima untuk berhenti dengan gerakannya, karena masih terasa ngilu dilubang vaginaku itu. Ketika aku mulai merasa sakitnya berkurang, kucubit Prima sebagai tanda agar dia melanjutkan gerakannya itu. Dengan pelahan lahan Prima menarik kemaluannya, aku menggigit bibir karena rasa perih yang tersisa, begitu juga ketika Prima kembali menusukkan kemaluannya keliangku, baru kira kira lima kali aku mulai tak merasakan sakit, bahkan pelan pelan aku mulai merasa geli dan gatal disekeliling liang vaginaku, dan juga rasanya aku kepengen pipis, saat itulah tiba tiba saja Prima mendengus keras dan terasa ada cairan hangat yang menyembur dalam liang vaginaku. Aku tahu kalau Prima sudah mencapai puncak kenikmatannya, aku diam saja ketika Prima menindihi tubuhku sambil memejamkan matanya. Aku hanya memeluk dia sambil menggigiti dan menjilati kupingnya pelahan pelahan. Aku merasa lega karena Prima sudah keluar, rasanya aku tak tahan dengan rasa perih yang disebabkan oleh rojokan kemaluan Prima tadi. Namun rupanya istirahatku hanya sekejap saja, karena kemaluan Prima yang masih terpaku didalam liang vaginaku itu tiba tiba bergerak lagi, rupanya Prima masih belum puas juga, dia mulai menggigiti buah dadaku sambil pelan pelan memaju mundurkan kemaluannya itu. Aku menjengit merasakan perih yang sebenarnya sudah agak berkurang karena sudah agak licin oleh begitu banyak cairan yang terkumpul diliangku. Kurengkuh kepala Prima dan kucium bibirnya sambil memejamkan mataku, aku mencoba menikmati "enaknya" persetubuhan ini. Terasa kemaluan Prima memadati liang vaginaku , serta setiap kali ujung kemaluan Prima menabrak dasar rahimku, terasa gatal membuatku ingin menggaruk bagian dalam rahimku itu supaya rasa gatal itu hilang. Tanpa sadar aku mulai menggerakkan pantatku untuk berusaha menghilangkan rasa gatal itu, tapi yang terjadi justru makin bertambah gatal dan geli, semuanya bercampur menjadi satu. Aku menggigit bahu Prima sambil merintih rintih karena kenikmatan yang aku rasakan sungguh sungguh tak pernah kubayangkan, jika selama ini puncak kenikmatan yang aku rasakan hanyalah dari jilatan atau gosokan jari pada kelentitku, maka kenikmatan kali ini benar benar menyeluruh. Seluruh organ kemaluanku terasa hangat dan seperti dialiri listrik, mulai dari ujung kelentitku, dinding kemaluanku sampai kedasar rahimku semuanya terasa begitu peka dan nikmat setiap kali Prima membuat gerakan yang paling pelan-pun. Apalagi jika aku juga menggerakkan pantatku, makin terasa ngilu sepertinya mau pipis. Dan yang aneh, kurasakan sepertinya kemaluan Prima makin besar dan memadati liang vaginaku itu, baru belakangan aku tahu bahwa hal ini disebabkan karena justru dinding dinding vaginaku yang menyempit karena dipenuhi oleh darah akibat rangsangan seks yang begitu menggebu gebu.

Gerakan Prima makin cepat dan setiap kali terasa menghunjam dasar rahimku dengan cepat, aku selalu berusaha agar setiap tusukan Prima menyentuh kelentitku juga, agar rasanya makin geli. Tiba tiba Prima berbisik ditelingaku "mbak aku mau keluar nih..., mbak masih lama keluarnya ?" Aku tak menjawab pertanyaan Prima ini karena aku berkonsentrasi merasakan semua kenikmatan ini, sehingga ketika tiba tiba Prima menghentikan gerakannya dan menyemprotkan cairan hangat didalam vaginaku, aku juga mendesah karena saat itulah aku juga mencapai puncak kenikmatanku. Mataku terasa gelap, badanku mengejang untuk beberapa saat, entah saat itu apa yang kulakukan, yang pasti aku benar benar menikmati persetubuhanku ini.

Setelah beberapa saat merasakan semuanya, kudorong Prima kesampingku dan aku bergegas bangun untuk mencuci vaginaku, saat itulah baru kulihat kalau sprei tempat tidur penuh dengan noda sperma bercampur darah perawanku, belum lagi badanku penuh dengan cupangan Prima, apalagi buah dadaku. Dengan tertatih tatih aku masuk kamar mandi. Ketika kusiram vaginaku dengan air dingin, aku menjengit sendiri karena masih terasa perih, kubiarkan saja Prima mengetuk pintu kamar mandi, karena aku masih merasakan sedikit sedih karena hilangnya keperawananku disamping masih perih tadi. Baru setelah agak lama aku menyambar handuk kulilitkan kebadanku dan kubuka pintu kamar mandi. Begitu pintu kubuka, Prima langsung memelukku dan mencium bibirku dengan lembut sambil tangannya meremas pantatku. Aku melepaskan ciuman Prima dan berkata bahwa vaginaku rasanya perih sekali, Prima hanya diam saja dan dia terus masuk kekamar mandi untuk mencuci kemaluannya yang kelihatan masih gagah itu. Seingatku sampai saat pulang, aku dan Prima bersetubuh lebih dari lima kali. Ada satu hal yang membuat aku tersenyum sendirian adalah tentang bossku, bagaimana sikapnya bilamana dia tahu kalau aku sudah nggak perawan, pasti dia bingung akan ikut mencicipi. Semuanya baru akan terjawab pada hari Senin ketika aku masuk kerja, aku berencana tidak akan memberitahu secara langsung, tetapi aku biarkan dia mengetahuinya sendiri.

Pagi itu aku berangkat kantor dengan perasaan agak sedikit malu, karena bagaimanapun juga aku rikuh kalau bossku tahu kalau aku sekarang sudah tidak gadis lagi. Meskipun demikian aku berusaha untuk bersikap biasa saja, seolah olah tidak ada apa apa. Namun tidak seperti yang kuduga ( atau aku harapkan ? ), hari itu ternyata bossku sibuk sekali sehingga kami tak sempat berbincang bincang intim diruang kantornya. Aku agak lega juga karena aku tak perlu bercerita macam macam pada bossku itu. Malamnya kembali aku menikmati kerasnya kemaluan Prima diliang vaginaku, kali ini aku diajak Prima ketempat kosnya. Aku tak menyangka bahwa Prima yang berbadan kecil ternyata menyimpan nafsu seks yang luar biasa. Dia terus menerus ingin mengulang persetubuhan denganku, meskipun sudah beberapa kali mengeluarkan sperma. Meskipun sebenarnya aku sangat menyukai semua itu, tetapi aku paksakan juga untuk menolak karena aku kuatir ada tetangga yang curiga. Aku pulang dengan tubuh yang loyo, dan kurang ajarnya, Prima membiarkan aku pulang sendirian karena dia agak marah ketika aku menolaknya untuk mengulang permainan tadi.

Akhirnya bossku tahu juga kalau aku udah nggak perawan. Gara garanya siang itu dia menyuruh aku naik keruang kerjanya, aku langsung mengerti maksudnya, dan seperti biasa Nuning tersenyum senyum melihat aku dipanggil keatas itu. Tidak sepert biasanya, kali ini hatiku berdebar debar ketika memasuki ruang kerja bossku itu. Kulihat bossku berdiri didepan meja kerjanya, dia langsung menghampiri aku dan memelukku serta meremas buah dadaku. Aku menggelinjang, sementara bossku mencium dan mengulum bibirku penuh nafsu. Ketika bossku berusaha membuka blusku dan behaku, aku berusaha melarangnya karena diseluruh buah dadaku penuh dengan warna merah akibat cupangan Prima kemarin malamnya. Namun bossku mana mau tahu, dia terus memaksa sehingga aku menyerah dan membiarkan saja dia melolosi bajuku. Benar saja dia tertegun melihat buah dadaku yang penuh cupang itu. Sebenarnya dulupun aku sering mendapat cupangan dibuah dadaku, dan bossku juga tahu, tetapi kali ini memang banyak sekali sehingga bossku bertanya kok bisa begitu banyaknya. Dengan malu malu aku menceriterakan pengalamanku padanya. Diluar dugaan, bossku begitu gembira mendengar kalau aku sudah nggak perawan lagi. Melalui interkom dia menilpon kepada Nuning dibawah dan berpesan agar jangan ada yang mengganggu dia diatas.

Aku langsung mengerti kalau dia mau menyetubuhi aku juga. Benar saja, begitu menutup telepon, dia langsung memelukku dengan erat sambil membisikkan ajakan untuk bersetubuh. Aku hanya balas memeluk saja tanpa menjawab apapun, sejujurnya saja, aku masih merasa malu, karena mengaku sudah tak perawan itu. Tapi aku sangat terangsang dengan avontur ini, main dikantor bossku sendiri. Aku hanya diam saja ketika bossku mulai mempreteli pakaianku, hingga aku jadi telanjang bulat dan membaringkan aku diatas meja kerjanya yang kebetulan kosong itu. Meskipun keadaan kantorku aman dan sepi, aku masih punya rasa kuatir kalau kalau mendadak ada saja yang naik keruang atas, karena selama ini, kalau tokh bercumbu, paling lama juga 30 menit. Karena itu aku berbisik pada bossku agar cepat cepat saja,. Tapi bossku justru acuh saja, dia melepaskan seluruh pakaiannya sehingga kami sama sama telanjang bulat, kemaluannya yang tegang itu langsung mengacung keluar setengah mengarah keatas sambil manggut-manggut naik turun, kalau kuperhatikan rasanya kemaluan bossku itu lebih besar dari biasanya, ujung kemaluannya terlihat begitu tegang sampai berwarna kemerahan. Urat-urat diseluruh permukaan batang kemaluannya menonjol keluar semua membentuk guratan-guratan kasar setengah melingkar. Meskipun tidak sebesar kepunyaan Prima, kemaluan bossku cukup menjanjikan !

Ik, ... aku akan memberimu kepuasan ... aahhh ... kau lihat kemaluanku Ik, ... dia yang akan memberimu kenikmatan ...", bisiknya nakal. Kulirik ke bawah menyaksikan kemaluan bossku itu. Aku hanya tersenyum malu kataku :... masukkan sekarang Pak...", bisikku sedikit keras. Bossku tak memperdulikan ajakanku itu, dia malahan meremas buah dadaku, suatu hal yang paling aku tak tahan. Lidahnya dengan lembut menyentil putingku dan menggigitnya pelan pelan." Aduuh ...nngggghhhh ...", aku merintih semakin keras. Bossku mulai menghisap putingku yang mulai keras dan ... semakin keras. Puas menghisap, lidah bossku yang basah menjalar menjilati seluruh permukaan buah dadaku sampai basah dengan air liurnya. Aku jadi semakin menggelinjang kegelian serta enak yang luar biasa. Mulutku berulang kali merintih dan mengerang keenakan menikmati sedotan mulut bossku yang luar biasa itu." Sssstt... nggghhhh ..... awwww ....". Tanganku menggapai gapai mencari kemaluan bossku, dan ketika ketemu, kuremas kemaluan hangat itu sekuatku agar aku tahan menghadapi rasa geli yang diberikan oleh bossku ini. Bibir bossku kini berpindah untuk menghisap, mengulum dan menjilati buah dadaku yang satu lagi, sementara buah dadaku yang lain diremasnya dengan lembut. Seperti tadi, bossku mengenyot-ngenyot buah dadaku membuat aku semakin menggeliat hebat keenakan." Aduuuh ...Pak ...hu ..hu.... sudah Pak ...nggghhhh ...ampun Pak ...", Bossku semakin bersemangat menjilat dan menggigiti buah dadaku. Setelah puas barulah bossku berhenti, ketika kuangkat kepalaku untuk memandang kedua buah dadaku, ternyata cupangan dibuah dadaku bertambah banyak dan kelihatan berkilat oleh air liur bossku. Aku rasanya terbang menghadapi kepintaran bossku memabangkitkan nafsuku ini, sebenarnya aku tidak perlu dirangsang terlalu hebat, karena pada dasarnya aku memang punya temperamen yang "panas", sehingga rangsangan bossku ini membuat aku jadi seperti gila ! Aku merasakan liang vaginaku sudah gatal sekali, tanpa sadar jariku sudah memasuki liang vaginaku sendiri dan kurasakan kehangatan liang vaginaku yang licin oleh lendir itu. Sekarang bossku menarik tubuhku sehingga posisi tubuhku separuh diatas meja sedang kakiku terjuntai kebawah meja. Kemudian dia mengangkat kedua kakiku dan diletakkannya diatas pundaknya, dengan tangan kirinya bossku membuka bibir vaginaku sementara tangan kanannya menuntun kemaluannya memasuki liang vaginaku. Dengan sekali tekan kemaluan bossku amblas kedalam liang vaginaku, aku menjengit ketika kurasakan tusukan bossku langsung menyentuh liang rahimku, rasanya geli sekali. Baru sekarang aku merasakan keampuhan kemaluan bossku ini, ternyata bossku benar benar seorang jagoan, meskipun barangnya tidak sebesar dan sepanjang kemaluan Prima, tetapi caranya dia menggelitik vaginaku membuat aku benar benar takluk padanya. Dia selalu mengarahkan batang kemaluannya kearah kelentitku, sehingga setiap kali dia menusukkan kemaluannya, kelentitku tergosok yang membuat aku menggelinjang terus menerus. Tangannya menekan kedua kakiku yang ada dipundaknya sehingga vaginaku mau tak mau jadi menjepit kemaluannya. Sambil memompakan kemaluannya, bossku menjilati tungkai kakiku membuat aku jadi merintih rintih karena rasa geli. Entah karena sensasi yang begitu hebat atau karena memang karena aku sudah begitu merindukan main dengan bossku ini, sebentar saja aku sudah mencapai puncakku, aku berpura pura belum mencapai orgasme, karena aku malu kalau bossku tahu aku begitu cepat orgasme. Tetapi tiba tiba bossku berbisik ditelingaku :"Ik dilap dulu ya, kamu sudah keluar ya, rasanya jadi licin" Aku diam saja dengan malu, begitu bossku menarik lepas kemaluannya, aku segera mengambil saputanganku dan melap liang vaginaku yang memangnya sudah penuh lendir licin itu. Bossku hanya tersenyum, sementara ia sendiri membiarkan kemaluannya yang tegak lurus itu basah mengkilat. Ketika aku sudah selesai membersihkan liangku, bossku menarik aku kesofa, dengan posisi duduk selonjor, ia memangku aku dan menepatkan kemaluannya diliang vaginaku. Ketika sudah terasa ujung kemaluannya terjepit bibir vaginaku, ia menekan badanku kebawah membuat kemaluannya pelan pelan amblas keliang vaginaku. Aku menggigit bibir merasakan kenikmatan ini, karena barus saja aku bersihkan, maka liang vaginaku terasa seret sekali. Kulihat bossku memejamkan mata, sementara tangannya dengan gemas terus meremas remas buah dadaku yang terasa membengkak itu. Setiap kali aku berusaha menekan pantatku kebawah, bossku selalu mendesis keenakan, sehingga begitu terasa ujung kemaluannya menyentuh rahimku, dia langsung merengkuh wajahku dan mencium bibirku sambil digigit pelan penuh nafsu. Aku terdiam diatas pangkuan bossku sementara kemaluannya terbenam semuanya didalam liangku, tanpa mengerti harus berbuat apa, aku hanya membalas ciuman bossku dengan penuh nafsu juga kugeser geserkan buah dadaku kedadanya. Aku sungguh sungguh menyukai posisi ini, karena dengan leluasa kami bisa bercumbu, kujilati leher bossku begitu juga kupingnya, suatu hal yang kusukai, dan bossku diam saja. Namun ketika dirasakannya aku sama sekali tidak menggerakkan pantatku, ia berbisik lagi "Ik, ayo pantatnya digoyang sambil diangkat naik turun ya" Aku menyeringai malu merasakan kebodohanku ini. Sambil tetap memeluk leher bossku, kuangkat pantatku pelan pelan, terasa batang kemaluan bossku menggeleser disepanjang dinding vaginaku, karena belum terbiasa aku terlalu tinggi mengangkat pantatku sehingga kemaluan bossku lepas dari liang vaginaku. Dengan tergopoh gopoh bossku menuntun kemaluannya kembali keliang vaginaku dan ditekannya pantatku sehingga kemaluan bossku kembali terjepit dikelembaban vaginaku. Dengan pengalaman tadi, maka aku berusaha untuk tidak terlalu tinggi mengangkat pantatku dan selanjutnya menurunkan kembali dengan penuh kenikmatan. Dengan posisi ini, bossku asyik menciumi buah dadaku serta mengulum putingnya, aku sendiri merasakan kegelian yang amat sangat terutama bila ujung kemaluannya menyentuh dasar rahimku, nafasku mulai memburu, disamping karena posisi ini melelahkan, nafsuku juga sudah memuncak lagi, rasanya vaginaku jadi membara dan basah kuyup, setiap kali kuturunkan pantatku suaranya berkecipak ramai sekali. Bossku sendiri dengan tiba tiba melenguh dan menggigit lenganku, sementara kurasakan kemaluannya memancarkan air maninya menabrak dinding dinding vaginaku dengan derasnya. Aku mempercepat gerakan pantatku agar supaya aku juga bisa mencapai puncakku, dan usahaku berhasil, kurasakan tulangku seperti copot semua ketika orgasmeku yang kedua membasahi seluruh dinding vaginaku. Aku menekan pantatku menghunjam kemaluan bossku keras keras, agar kenikmatan ini makin terasa. Kupeluk dia erat erat sambil mencakar cakar punggungnya. Entah berapa lama kami dalam posisi seperti ini, sampai kurasakan bossku membelai belai rambutku dan berkata "Ik, kamu memang hebat, aku puas sekali lho!" Aku hanya tersenyum saja, tapi aku tak berani mengatakan kalau posisi duduk tadi membuat aku begitu terangsang. Sampai saat ini, meskipun denga suamiku pun aku paling favorit memakai posisi duduk berpangkuan ini, benar benar enak dan memuaskan.

Aku tidak menceriterakan semua pengalamanku dengan bossku maupun dengan Prima, karena semuanya berjalan biasa. Dirumah aku dipuaskan Prima, sedang dikantor aku memuaskan bossku, mengapa aku katakan demikian, karena aku agak takut untuk menikmati seks dikantor dengan bossku itu, karena banyak teman yang ada dikantor dan mereka bisa curiga, jadi dengan bossku aku hanya cenderung melayani dia, tanpa mendapat kepuasan, kecuali kalau kita main diluar, inipun jarang jarang terjadi. Tetapi ada satu sifat bossku yang tak pernah aku lupakan, dia sangat senang bila aku berceritera tentang permainan seks-ku dengan Prima, bahkan bila aku tak berceritera, dia selalu menanyakannya. Aku dengan terbuka selalu berceritera pengalamanku, hal ini membuat bossku sangat senang, karena rupanya dia menjadi lebih bergairah bilamana aku menceriterakan semua pengalamanku kepadanya.

Hanya saja ada suatu kejadian yang membuat aku jadi kapok dan lebih berhati hati menjaga hubungan seks-ku adalah ketika hubunganku pertama kali dengan Prima itu membuatku hamil. Sejak pertama kali aku diperawani oleh Prima, sampai bulan ketiga aku sama sekali tidak menstruasi, ketika aku periksa kedokter, positif dinyatakan aku hamil. Ini benar benar membuatku jadi kelabakan dan bingung, Prima tak bisa berbuat apa apa selain mengajak aku kawin, yang jelas jelas kutolak, karena aku belum mau kawin sebelum lulus kuliah apalagi dia jauh lebih muda dari aku. Bossku memberikan beberapa saran, antara lain untuk pergi kedukun pijat serta meminum beberapa obat serta jamu.

Diluar dugaanku ternyata bossku meminta bantuan Nuning untuk menyelesaikan masalah ini, aku sendiri kaget dan malu dengan Nuning, karena aku kuatir kalau dia curiga ini hasil hubunganku dengan bossku, tetapi ternyata Nuning percaya kalau ini bukan benih bossku ( sebab dia sendiri sudah sering disirami bossku tetapi juga nggak bunting )

Nuning mengajak aku ketempat seorang dukun di desa K.., sebenarnya aku agak takut karena dukunnya laki laki, tetapi Nuning meyakinkan aku kalau semuanya akan berjalan baik, dan pasti aku akan tertolong. . . . .

Didukun laknat ini aku mendapat perlakuan yang kurang senonoh, vaginaku diobok obok, sampai aku menjerit jerit kesakitan. Tapi aku sama sekali tidak disetubuhi atau apapun, namun ketika dia menyuruh aku kembali lagi, aku bilang pada Nuning kalau aku tidak mau. Akhirnya kandunganku bisa digugurkan melalui bantuan seorang dukun pijat, tapi sialnya waktu itu libur hari raya, sehingga saat itu aku ada dirumah orang tuaku yang jadi kebingungan karena aku bleeding banyak sekali. Pengalaman ini semua tidak pernah aku lupakan sampai saat ini.

Kisah petualanganku selama kuliah berakhir ketika aku sudah lulus dan menyandang gelar sarjana ekonomi akuntansi. Karena ditempat kerjaku yang sekarang ini boleh dikatakan aku hanya kerja mengisi waktu, maka ketika aku meminta ijin pada bossku untuk berhenti, dengan berat hati dia menyetujuinya. Tetapi dia meminta aku untuk berjanji agar terus mengkontak dia dimanapun aku berada. Hal ini dapat aku lakukan selama aku masih ada dikota tempatku kuliah, karena pada awalnya aku diterima kerja disebuah kantor akuntan, sehingga dengan mudah kami terus berhubungan, meskipun ada beberapa pria yang aku beri kesempatan untuk dekat dengan aku ( karena aku juga mulai berpikiran untuk berumah tangga ), namun tak seorangpun yang aku beri kesempatan seperti Prima dan bossku, entah kenapa, aku kok tahan untuk tidak kontak seks. Padahal beberapa pacarku cenderung selalu mencumbu aku dengan agresif, paling paling aku langsung masturbasi untuk memuaskan diriku sendiri. Sampai sekarang aku tak mengerti kenapa saat itu aku tahan untuk tidak gampang menerima ajakan berhubungan seks, padahal ketika aku bekerja, aku hampir setiap hari tak pernah melewatkan seks dengan siapapun yang aku kenal. Semuanya aku ceriterakan dalam kisahku setelah lulus kuliah.

Selesai Kuliah :

Kerjaku dikantor akuntan kurang berkenan dihatiku, karena setiap hari aku hanya mendapat tugas luar seperti membayar pajak dan lain lain. Kebosanan ini membuat aku nekad berhenti dan meninggalkan kota tempatku kuliah itu. Bossku serta juga Prima melarangku pindah, tetapi aku tak perduli, karena aku merasa mereka hanya butuh tubuhku ( tetapi belakangan aku menyadari bahwa dugaanku ini keliru, mereka semua sangat menyayangi aku ). Ada satu kejadian yang membuat hubungan dengan bossku jadi agak runyam adalah ketika kami sempat dicurigai oleh keluarganya, tak perlu kuceriterakan detailnya, yang pasti sejak saat itu aku dan bossku jadi jarang bertemu, meskipun demikian melalui Nuning, bossku masih selalu memberiku uang. Saat itulah aku mendapat pacar baru seorang mahasiswa teknik mesin tingkat akhir, umurnya sebaya dengan aku, hanya saja karena dia bekerja sambil kuliah ( seperti aku ), maka dia pernah harus terminal untuk beberapa tahun. Anaknya benar benar simpatik dan ganteng, aku sangat menyayanginya, apalagi aku biasa main dengan beberapa pria bergantian, sehingga rasanya hambar ketika aku hanya main dengan Prima saja ( ingat saat itu aku masih dikota tempatku kuliah ), hal ini membuat meskipun baru akrab selama beberapa minggu, aku sudah tergoda untuk mencumbu Winarto agar menyetubuhi aku. Bagiku hal ini bukan sesuatu yang sulit, Winarto dengan penuh nafsu memenuhi "tawaranku" , sayang sekali Winarto hanya wajahnya yang ganteng serta posturnya atletis, tetapi mainnya "payah", burungnya kurang gede dan cepet sekali dia keluar. Dan juga diluar dugaanku dia sangat egois sekali, dia begitu posesif terhadapku, bahkan dia selalu melayani sikap bermusuhan dari Prima yang merasa cemburu dengan kehadirannya itu. Aku seringkali sedih menghadapi semua ini, aku sudah sulit berhubungan dengan bossku untuk tanya saran dan lain lain, mana Prima yang childish selalu cemburu padaku dan paling tidak aku sukai adalah sikap Winarto yang semena mena itu. Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan kota ini, sekitar 4 bulan setelah aku lulus kuliah. Alasanku pada Winarto adalah ingin kembali kekota asalku, dan bekerja disana. Diapun sebenarnya berat berpisah dariku, tapi aku sudah tak tahan, aku hanya kasihan pada Prima yang begitu kehilangan aku. Ketika aku sudah dikota asalku Yogya, justru Prima yang lebih sering mengunjungi aku dibanding Win. Di Yogya aku menganggur, kerjaku setiap hari hanyalah bersantai santai dan mengunjungi teman teman semasa SMA dulu. Semua ini membuat aku frustrasi, akhirnya aku nekad untuk ke Jakarta menemui tanteku yang tinggal disana, barangkali saja aku bisa menemukan pekerjaan yang sesuai dengan pendidikanku.

Dengan bantuan seorang keluargaku yang menjadi perwira AURI, aku bisa ikut numpang pesawat Hercules ke Jakarta.

 

Dalam perjalananku ke Jakarta iIkah terjadi sesuatu yang cukup penting dalam hidupku, dipangkalan sebelum pesawat berangkat aku berkenalan dengan seorang Kapten yang juga akan ke Jakarta. Dia rupanya kenal dengan kakakku yang lebih rendah pangkatnya. Karenanya dengan basa basi kakakku menitipkan aku kepada Pak Ruhut, nama si perwira ini. Orangnya bersih, ganteng dan senang berbicara, gaya berbicaranya seperti bossku dulu, selalu menjurus kearah yang berbau porno. Aku selalu tersenyum senyum setiap kali berbicara hal yang miring miring. Rupanya dia jadi penasaran dengan sikapku yang hanya tersenyum senyum itu, dia juga sempat menanyakan apakah tadi yang mengantar itu kakakku atau hanya kakak kakak-an. Aku tertawa lebar dan menjelaskan kalau dia adalah kakak sepupuku.

Didalam pesawat Hercules yang begitu besar hanya ada sekitar 15 orang penumpang disamping beberapa kotak besar yang berisi cargo, suasana didalam pesawat agak gelap disamping udara yang agak panas. Dengan cerdik, Pak Ruhut berhasil mengajak aku untuk pindah tempat duduk dibelakang peti sehingga tidak terlihat oleh penumpang yang lain. Aku mandah saja, karena aku juga tertarik padanya. Setelah menemukan tempat yang nyaman, kami duduk dan mulai berbincang bincang lagi. Saat itulah tiba tiba tangannya merangkul pinggangku dan bibirnya mencium leherku. Aku agak kaget dan menggelinjang, Pak Ruhut tersenyum dan bukannya melepaskan pelukannya bahkan mempereratnya. Aku diam saja sambil tersenyum, rupanya senyumku ini dianggap lampu hijau oleh Pak Ruhut yang sekarang malah berani mencium pipiku. Aku berbisik agar jangan melakukan hal itu, karena banyak orang didalam pesawat, kalau ketahuan nggak enak. Dia menurut saja, tetapi tangannya makin nakal mengembara kemana mana.

Ketika Pak Ruhut menanyakan aku apakah aku sudah punya pengalaman seks, aku tidak menjawabnya hanya tersenyum lebar dan menyuruh dia untuk menerka sendiri. Dengan gayanya yang lucu dia memijat mijat lenganku dan tiba tiba dia meremas buah dadaku membuat aku jadi kaget dan kepalaku membentur dinding pesawat. Saat itulah Pak Ruhut berkata mantap, kalau dia yakin aku sudah punya pengalaman ! Aku sama sekali tak memberi komentar, memang dia betul menduganya, tetapi aku yakin bahwa dia belum seratus persen yakin dengan dugaannya yang aku percaya asal asalan itu. Kalau tokh dia merasa aku sudah punya pengalaman, mungkin dia menilai dari sikapku yang demikian gampang dirayu itu.

Tak terasa pesawat sudah mendarat di HPK (Halim Perdana Kusuma, red), ketika turun dari pesawat Pak Pak Ruhut ngotot akan mengantar aku, karena dari HPK kerumah tanteku di Jatinegara jaraknya cukup jauh. Aku sih OK saja, bagi aku nggak ada yang aku kuatirkan sama sekali bahkan aku rasanya sudah kepengen di... oleh pak Pak Ruhut yang ganteng itu.

Dalam taksi yang membawa kami berdua, tiba tiba saja Pak Ruhut berbisik agar sebaiknya mampir dulu ke mess-nya, baru nanti kerumah tanteku. Aku tanpa berpikir panjang langsung mengiakan saja. Lama setelah kejadian dengan Pak Ruhut ini, aku sempat berpikir apa yang membuat aku demikian mudah masuk dalam rayuan Pak Ruhut. Jawabannya mudah sekali, kalau Pak Ruhut tak mengajakku, pasti aku yang merayunya agar meniduri aku, karena saat aku ke Jakarta itu, sudah beberapa bulan aku nggak merasakan nikmatnya persetubuhan.

Ketika sampai di mess perwira, Pak Ruhut menyuruhku pergi mandi, dengan patuh aku menuruti permintaan Pak Ruhut itu, kumasuki kamar mandi dan membuka pakaianku serta mulai mandi. Tiba tiba saja kudengar pintu kamar mandiku diketuk dari luar, ketika kutanya siapa, ternyata Pak Ruhut yang meminta sabun. Aku tahu pasti ini adalah akal Pak Ruhut untuk menggangguku, aku hanya tersenyum saja. Kubuka pintu kamar mandi sedikit untuk mengeluarkan sabun yang dimintanya, tetapi seperti sudah kuduga, ia justru menerobos masuk dan mengatakan kalau ia ingin mandi sama sama. Meskipun agak malu, aku membiarkan saja karena sejujurnya saja aku sudah lama merindukan kemaluan, dan aku yakin bahwa Pak Ruhut pasti akan mengajak aku bersetubuh, hanya saja bagaimana caranya mengajak itulah yang aku belum tahu. Rupanya Pak Ruhut tak mau menunggu terlalu lama, selesai melepas pakaiannya ia langsung saja mendekap tubuhku yang masih penuh dengan sabun itu. Kurasakan kemaluan Pak Ruhut menggeser pahaku. Aku menggeliat kaget dengan kenekadannya, tetapi karena badanku licin karena sabun, maka aku malahan jadi berhadapan dengan Pak Ruhut, yang makin erat memelukku sehingga buah dadaku menempel didadanya. Meskipun badanku penuh sabun, Pak Ruhut dengan rakusnya menciumi buah dadaku dia bahkan mengulum putingnya. Aku benar benar jadi bergairah, karena Pak Ruhut langsung menemukan pusat rangsangan ditubuhku. Aku hanya diam saja ketika Pak Ruhut mendorong badanku ketepi bak mandi, diciuminya bibirku dengan penuh gairah sementara tangannya menarik tanganku agar supaya memegang kemaluannya. Ketika kuremas, terasa bahwa kemaluan Pak Ruhut belum sepenuhnya tegang, karena aku masih agak malu, maka setelah kuremas sebentar, maka kulepaskan lagi. Pak Ruhut mengangkat tubuhku agar supaya dapat duduk ditepi bak mandi itu, dengan susah payah dapat juga aku duduk ditepi bak mandi itu. Tanpa menunggu lama, Pak Ruhut menguakkan pahaku dan langsung saja dia menyorongkan kemaluannya keliang vaginaku, mungkin karena aku sudah bernafsu juga, maka meskipun kemaluan Pak Ruhut tidak terlalu kaku, berhasil juga masuk kedalam liangku. Aku memejamkan mata, karena rasa geli oleh geseran kemaluan Pak Ruhut yang memadati liang vaginaku, sayangnya baru beberapa kali Pak Ruhut menggerakkan kemaluannya, ia sudah memuntahkan spermanya. Dengan agak malu Pak Ruhut mencabut kemaluannya dan meminta maaf karena katanya sore itu dia lelah sekali, tetapi jikalau aku mau besok aku akan dijemputnya untuk main lagi. Malam itu aku diantar kerumah tanteku oleh Pak Ruhut, sebenarnya aku masih merasa gatal karena nafsuku tak tersalurkan sepenuhnya, bayangkan sudah lama aku tak menikmati kemaluan yang seperti punya Prima, sekarang dapat, kok loyo seperti itu. Tapi tak apalah, aku senang karena bisa berhubungan dengan seorang perwira yang ganteng dan sebenarnya kemaluannya cukup gede juga.

Hubungan seks ku yang kedua dengan Pak Ruhut terjadi keesokan harinya, dia menjemput aku dan kita kembali ke messnya yang kosong itu. Begitu memasuki kamar, tanpa ampun aku langsung dipeluknya dan diciumi seperti kesetanan, tangannya dengan lincah menelanjangi aku sementara aku hanya mampu memejamkan mata dan berpegangan pada bahunya saja. Setelah semua pakaianku terlepas, dengan rakus pak Ruhut mengulum puting buah dadaku dan menggigit buah dadaku dengan gemas. Aku hanya merintih rintih karena geli dan nikmat, ketika ciuman pak Ruhut mengembara keperut dan lidahnya menelusup dipusarku aku makin menggelinjang kegelian, kutekan kepalanya kebawah agar tidak menggelitik pusarku, sekaligus juga kuharapkan agar dia menjilati vaginaku yang sudah basah kuyup itu, tapi rupanya pak Ruhut tidak mengerti isyaratku itu dia justru kembali menciumi buah dadaku dan bibirku. Ingin rasanya aku menyuruh dia untuk menjilati kelentitku, tetapi aku malu. Ini semua membuat aku makin gelisah dan aku juga mulai balas menggigit bibir pak Ruhut sebagai ekspressi birahiku yang sudah naik keotak itu. Kucoba untuk juga ikut membuka baju pak Ruhut, tetapi agak sulit juga karena dia menindihi tubuhku yang telanjang itu. Rupanya pak Ruhut mengerti kalau aku juga sudah tak sabar lagi, maka mendadak dia berdiri dan membuka pakaiannya sendiri. Aku hanya terbaring diranjang sambil menutup mukaku dengan bantal karena malu, malu karena rasanya tak pantas begitu cepat aku mau diajak berhubungan seks oleh seorang pria yang belum lama aku kenal. Namun aku sungguh tak mengerti, kenapa rasa malu itu bisa dikalahkan oleh gairahku yang meletup letup, sehingga ketika Pak Ruhut menarik bantal yang menutupi wajahku dan menyodorkan kemaluannya didepan wajahku, tanpa ragu aku langsung menggenggam kemaluan yang kaku dan hangat itu dan mengulumnya. Kali ini kemaluan Pak Ruhut benar benar kaku seperti besi, namun dari beberapa pria yang pernah kukenal, kemaluan Pak Ruhut ukurannya tidak terlalu besar alias biasa saja. Kuhisap kuat kuat ujung kemaluan pak Ruhut untuk kemudian kuhabiskan seluruh batang kemaluannya sampai hidungku menyentuh bulu bulu kriting kemaluannya, dengan jariku kugelitik buah pelir pak Ruhut sehingga pak Ruhut menggeliat geliat kegelian, tanpa sungkan aku menggerakkan mulutku maju mundur sehingga kemaluan pak Ruhut sepertinya sedang menyetubuhi mulutku. Pak Ruhut mendesis desis keenakan dan tiba tiba saja, ia menekan seluruh batang kemaluannya kedalam mulutku dan menekan kepalaku keperutnya dan saat itulah air mani pak Ruhut menyembur dengan derasnya langsung kedalam kerongkonganku dan langsung kutelan habis. Setelah kurasakan semburan air maninya berhenti, kulepaskan kemaluan pak Ruhut yang mulai mengkerut itu. Aku jadi agak kuatir kalau pak Ruhut tak bisa lagi membuat kemaluannya ereksi, namum dugaanku keliru, karena setelah dengus nafasnya agak reda, pak Ruhut mulai lagi mendekati vaginaku dan kali ini dia yang dengan ganas menjilati vaginaku. Dipentangnya kedua pahaku lebar lebar dan lidahnya yang kaku itu langsung menyerbu kelentitku serta kadang kadang menyelusup kedalam liang vaginaku. Aku menggigit bibirku, mencoba untuk tidak menunjukkan kegelian yang aku rasakan. Namun semua itu tak bertahan lama, jariku mencakar cakar seprei dan kulingkarkan kedua kakiku keleher pak Ruhut. Kucoba untuk menyingkirkan mulut pak Ruhut dari vaginaku, tetapi semuanya tak ada hasil. Pak Ruhut benar benar memuaskan, sikapnya yang kasar dalam berhubungan seks membuatku teringat pada bossku dan ini juga aku sukai. Lidah pak Ruhut didalam liang vaginaku demikian lincah sampai menimbulkan suara yang berkecipak kecipak, aku pasrah dan lemas menikmati semua ini. Tapi rasa maluku membuat aku tak mengeluarkan sepatah katapun. Entah mengapa, tiba tiba pak Ruhut menghentikan jilatannya sehingga aku membuka mataku, rupanya kemaluan pak Ruhut yang sudah tegak lagi ingin menggantikan lidahnya itu. Dituntunnya batang kemaluannya kearah liang vaginaku dan begitu sudah tepat ditekannya sedikit melesak memasuki liangku. Aku merasakan ketika bibir vaginaku terkuak dan sedikit terganjal oleh sesuatu yang membuat bibir vaginaku jadi geli. Dan tiba tiba dengan kasar pak Ruhut menekan kemaluannya amblas memasuki liang vaginaku sampai menyentuh dasar rahimku. Aku merintih pelan, karena rasanya memang nikmat sekali. Begitu kemaluan pak Ruhut masuk semua, tanpa sungkan aku langsung melingkarkan kedua kakiku diatas pantatnya dan memutar mutar pantatku agar aku bisa merasakan kepuasan yang sudah lama aku rindukan itu. Melihat keganasanku pak Ruhut jadi gugup, dengan berbisik dia memintaku agar pelan pelan karena dia kuatir kalau muncrat lagi, tapi aku seolah tak mendengar semua itu, malahan kugigit pundaknya dan makin keras kuputar pantatku agar supaya ujung kemaluannya makin terasa menggerus dasar liang rahimku. Aku tak tahu apakah pak Ruhut juga sempat menarik dan menusukkan kemaluannya kedalam liangku, tapi rasanya tak mungkin ia bergerak lagi karena kakiku dengan erat mengunci pinggangnya. Ketika kurasakan puncak kenikmatanku sudah hampir tiba, tanpa terasa jariku mencengkeram punggung pak Ruhut dan rasa geli serta gatal yang kurasakan bercampur dengan rasa ingin kencing semuanya bercampur jadi satu dan meletup menjadi orgasme yang paling panjang yang pernah aku rasakan. Mungkin karena kontraksi liang vaginaku yang menguncup dan menyedot makin membuat pak Ruhut tidak tahan sehingga air maninya kembali tumpah memenuhi liang vaginaku. Hari itu aku benar benar puas, sampai sore hari aku berhasil mengajak Pak Ruhut untuk beberapa kali bersetubuh.

Selama Pak Ruhut ada di Jakarta, hampir setiap sore kita main seks sepuas puasnya, bahkan pernah sampai aku menginap semalam dan membuat tanteku kelabakan, karena dia tahu kalau aku tak punya sahabat di Jakarta. Aku terpaksa mencari alasan sekenanya agar supaya dia nggak curiga. Bagi aku, Pak Ruhut termasuk biasa biasa saja, bahkan kalau dibandingkan dengan bossku dan Prima, pak Ruhut masih kalah beberapa point.

Aku merasakan kalau aku mau dengan Pak Ruhut itu karena dia mirip dengan bossku yang jenaka dan konyol itu, cara mainnya pun seperti bossku itu, kasar dan seenaknya sendiri. Rasanya bagi aku seks yang terindah adalah dengan Prima dan bossku itu, dan semua avontur ku setelah itu hanyalah mengikuti gejolak keinginanku yang sebenarnya merindukan kedua orang yang pertama kali meniduri aku.

Usahaku untuk mencari kerja di Jakarta ternyata gagal, aku sempat melamar kebeberapa kantor namun hasilnya nol. Malahan pernah aku ditiduri oleh salah satu boss diruang kantornya, namun tetap aja aku nggak diterima kerja. Aku hampir lupa diri dan memaki maki boss tersebut, tapi aku malu sendiri, tokh itu juga salahku sendiri kok mau maunya! Akhirnya aku putuskan untuk kembali saja ke Yogya, disamping aku sudah bosan, aku juga kangen sama Pak Ruhut yang belakangan udah jarang ke Jakarta.

Kembaliku ke Yogya disambut dengan penuh sukacita oleh Pak Ruhut, namun ada satu kesulitan baru, Pak Ruhut tak berani mendatangi aku kerumah karena mess kakakku tak ada teleponnya, sedangkan kalau datang langsung dia sungkan karena takut ketahuan. Jadi yang terjadi justru kebalikan, kalau aku yang lagi kepengen, akulah yang nelpon pak Ruhut untuk mengajaknya keluar, dan ini tak pernah ditolaknya. Kalau nggak begitu, setelah kencan kita saling janji untuk ketemu lagi pada hari yang lain. Karena Yogya kota yang tak terlalu besar, maka kami harus sembunyi sembunyi untuk rendezvouz (saling bertemu, red). Tak jarang kami melakukannya dimobil jeep ditepi jalan disekitar Selokan Mataram yang sepi itu. Suasana ini sangat menggairahkan hatiku, karena rasa takut ketahuan membuat nafsuku cepat menggelora dan membuat vaginaku jadi basah. Bayangkan saja, aku hanya mencopot celana dalam, lalu aku duduk dipangkuan pak Ruhut, sementara pak Ruhut meremas remas buah dadaku yang rasanya sampai gepeng diremas oleh Pak Ruhut itu. Dengan cara ini justru pak Ruhut yang seringkali orgasme duluan, aku sendiri kadang kadang sulit mencapai orgasme, kalau sudah begitu sampai dirumah aku langsung masturbasi sambil merasakan sperma pak Ruhut yang masih tersisa divaginaku itu.

Kalau nggak begitu pak Ruhut meminjam mess perwira bujangan milik anak buahnya dan kita main disitu. Pertamanya aku malu karena perwira muda itu jadi ngerti kalau aku penggemar free seks, namun aku akhirnya acuh saja, bahkan aku juga sempat terlibat dengan perwira bujangan ini ( nanti aku ceriterakan dibagian lain )

Sepulangnya dari Jakarta, aku masih terus menganggur, kerjaku setiap hari ya melihat televisi, atau keluar dengan pak Ruhut, tapi sampai saat itu aku sama sekali tidak ada kontak dengan cowok lain. Entah mengapa, aku sepertinya nggak laku, padahal pak Ruhut selalu mengatakan bahwa aku cantik dan seksi ( isteri pak Ruhut sendiri pernah ketemu aku di Koperasi, orangnya gemuk namun wajahnya manis dan ramah ).

Suatu siang aku menerima surat dari sebuah supermarket yang cukup terkenal di Yogya, surat itu mengatakan kalau mereka membutuhkan tenagaku untuk bagian administrasi pembukuan, dan untuk itu aku diminta datang untuk interview. Aku sangat gembira dan kaget menerima tawaran yang tak kusangka ini, meskipun dalam hati aku sempat juga heran, kok mereka bisa tahu kalau aku butuh kerjaan. Kegembiraanku luar biasa, aku ceritakan semua ini pada mbakyuku serta juga pada Pak Ruhut ketika kita kencan malam itu. Pak Ruhut mengatakan kalau dia juga kenal baik dengan beberapa manager di supermarket tersebut, bahkan dia janji akan mengantar aku kesana bila aku mau.

Saat interview tak ada sedikitpun kesulitan yang aku hadapi, aku langsung ditemukan dengan GM-nya seorang ibu yang sangat ramah. Saat itu aku juga sempat tanya bagaimana mereka tahu kalau aku mencari pekerjaan, padahal aku tidak pernah melamar kesitu, jawaban mereka sederhana : mereka meminta info dari fakultas, siapa yang bisa direkrut kerja dan kalau bisa tinggal dikota Yogya. Bagi aku alasan ini cukup bisa diterima, meskipun nantinya aku mengetahui bahwa ada sesuatu yang menyebabkan aku bisa bekerja disitu itu !

Dengan diterimanya aku bekerja disupermarket, kesempatanku untuk kencan dengan pak Ruhut makin terbuka, setiap waktu dia bisa kontak aku, dan akupun juga bisa menghubungi dia dikantornya. Kami selalu memakai kode dalam menilpon sehingga tak ada yang curiga.

Setelah sekitar dua minggu aku bekerja, tiba tiba aku ditilpon untuk menghadap ibu GM dikantornya, aku berdebar debar karena kuatir kalau ada sesuatu yang menyebabkan aku harus "dipecat". Ternyata Ibu Indra, menyambutku dengan ramah dan mempersilahkan aku duduk, dia bertanya apakah aku kerasan dengan pekerjaanku dan macam macam pertanyaan yang bersifat umum. Aku sempat berpikir, apakah Ibu Indra ini seorang lesbian, karena aku jadi mikir apa dia mau mengajakku untuk membuat affair ( pikiranku selalu negatif, entah mungkin karena hobby-ku ), saat itulah ada tilpon masuk dan ketika mengetahui siapa yang menilpon, bu Indra tersenyum sambil mengangsurkan telepon kepadaku katanya :"Ini ada yang mau bicara dengan kamu" !.

Dengan ragu ragu aku menerima tilpon tersebut dan berkata "hallo, siapa ya ?"

Aku kaget luar biasa ketika mendengar suara bossku menyapa :"Ika ya, bagaimana kabarmu ?" Aku hampir saja berteriak gembira mendengar suaranya,"baik Pak, lho kok Bapak tahu kalau saya disini ?" "Ceritanya panjang Ik, aku sekarang ada di Solo, apa kamu bisa datang kesini untuk ketemu saya, entar saya ceriterakan"

Aku tak berani menjawab secara terbuka, namun aku minta nomor teleponnya maksudku dia akan aku kontak kembali. Rupanya dia mengerti dengan keadaanku saat itu, dan memberikan nomor telepon kantornya di Solo.

Pulang kantor siang itu, aku langsung menilpon bossku dari Wartel, dari ceriteranya, barulah aku tahu bahwa ternyata dia yang meminta pemilik supermarket untuk menerima aku bekerja. Aku hanya terperangah mendengar semua ini, benar benar tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa bossku akan begitu setia memperhatikan aku yang boleh dikata sudah "lupa" pada dia

Ketika bossku meminta agar aku siang itu bisa datang ke Solo, aku langsung saja mengiakan, kita berjanji akan ketemu di terminal Tirtonadi, untuk itu setibanya di Solo aku diminta untuk menghubungi lagi.

Diatas bus dalam perjalan ke Solo aku termenung memikirkan kejutan kejutan yang aku alami ini, aku merasa terharu sekali dengan perhatian bossku itu, aku tak dapat membayangkan bagaimana upayanya untuk dapat melacak keberadaanku selama ini, karena aku tak pernah menghubungi dia lagi selama itu. Dari ceriteranya ternyata aku dilacak melalui kontrakanku waktu kuliah dulu, dari situ dia mendapat alamat kakakku, kemudian dia meminta Bu Indra untuk memanggil dan memberi aku pekerjaan sedang alasannya dari Fakultas . Banyak hal yang serba kebetulan, seandainya saat dia menghubungi aku, aku masih ada di Jakarta, entah apa yang terjadi ? OK aku tak perlu memikirkan yang aneh aneh, yang pasti aku sudah dibantu, dan dalam hatiku aku bermaksud benar benar membalas perhatian dan kebaikan bossku ini. Aku dapat membayangkan bagaimana hot-nya bossku menghadapi aku nanti, semua ini membuat aku jadi basah kuyup sendiri.

Begiu turun di terminal Tirtonadi, Solo, bossku sudah berdiri didepan busku dan menyambut aku dengan tertawa lebar. Aku hanya tersenyum senyum saja melihat dia, kami bersalaman dan langsung menuju ke mobilnya dihalaman parkir. Barulah di dalam mobil kami menumpahkan rasa kangen kami. Dia memberhentikan mobilnya di daerah yang sepi dan memeluk serta meremas remas buah dadaku. Ciuman ciumannya mendarat di bibirku dan kubalas dengan penuh semangat. Cukup lama kami berhenti di tempat sepi itu, barulah kita meneruskan perjalanan ke sebuah hotel di kota Solo. Aku bergaya cuek saja ketika memasuki hotel, karena aku tahu semua orang memperhatikan kami, mungkin dikiranya aku pelacur atau bagaimana.

Dalam kamar aku benar benar menikmati gejolak nafsu yang bercampur dengan rasa kangen serta rasa terimakasih pada bossku. Aku mandah saja ketika dengan penuh gairah bossku menelanjangi aku menjilati vaginaku serta mencupang buah dadaku. Akupun dengan penuh gairah mengulum kemaluan bossku. Permainan pertama ini benar benar kasar, seolah olah kami ingin menumpahkan semua rasa kangen. Ketika bossku menyuruh aku membungkuk dan memasukkan kemaluannya dari belakang, aku benar benar merasa lega, kemaluan bossku terasa memadati liang vaginaku yang basah kuyup menahan nafsu itu. Dengan beberapa hentakan saja bossku sudah ambrol dan memuntahkan spermanya keliang vaginaku, merasakan hangatnya semburan air mani bossku, akupun jadi tak tahan dan dengan menggigil aku merasakan kontraksi vaginaku menjepit batang kemaluan bossku itu. Meskipun sudah menumpahkan air maninya, bossku masih terus meremas remas aku serta menciumi sekujur tubuhku tanpa puas. Akupun membiarkan saja semua tingkah laku bossku ini, karena aku tahu bahwa dia sangat kangen padaku. Bahkan aku juga memberi reaksi yang positif atas semua itu. Barulah setelah dia tegang dan menyetubuhi aku untuk kedua kalinya, dia terbaring berkeringat disebelahku. Seperti kebiasaan bossku, dia mulai bertanya mengenai pengalaman seks-ku selama ini, aku berterus terang pada dia kalau aku nggak pernah kontak dengan kenalan lama yang diketahui bossku, tapi aku hanya punya kontak dengan Pak Ruhut. Mendengar ceritaku tentang pak Ruhut, bossku jadi nafsu lagi dan dia mulai lagi menyetubuhiku. Malam itu benar benar malam yang menyenangkan bagiku, sampai saat aku meninggalkan hotel sekitar pukul 8 malam, kami main sampai empat kali dan hebatnya aku bisa mencapai kepuasan dalam empat kali persetubuhan itu, sesuatu yang jarang kudapat selama main dengan bossku dahulu. Sejak saat itu hubungan dengan bossku menjadi rutin, setiap kali dia menilpon aku dan mengundang aku datang ke Solo atau bahkan dia yang datang ke Yogya. Bossku juga selalu menilpon kekantor serta menanyakan aktifitas seks yang aku lakukan di Yogya ini. Karena aku tahu bahwa ceritaku sangat menyenangkan bossku, maka aku selalu menceritakan semua kontak seks ku dengan pak Ruhut, bossku selalu menanyakan mendetail, dan dia selalu bilang kalau dia juga mendengarkan ceritaku sambil masturbasi. Karena bossku juga sungkan selalu menilpon kekantor, maka akhirnya aku dibelikan cellular phone, sehingga lebih mudah bagi dia untuk mengkontak aku. Bahkan setelah aku mempunyai cellular phone, kadang kadang aku menilpon dia setelah selesai main dengan Pak Ruhut. Aku menilpon bilamana aku masuk kamar mandi membersihkan badanku setelah main, semua aku lakukan hati hati supaya pak Ruhut nggak curiga, diapun tak tahu kalau aku punya cellular phone.

Entah karena keinginanku untuk memberi cerita yang bervariasi pada bossku, atau karena memang aku lagi "birahi", maka hampir tiap malam aku main dengan pak Ruhut, bahkan aku juga sempat main dengan beberapa perwira muda yang tinggal di mess bujangan. Yang pertama mendapat kenikmatan dariku adalah Kirno, aku mengenal Kirno ketika aku belanja ditoko milik Puskopau, aku yakin kalau dia dapat info dari Hari perwira muda yang messnya sering dipinjam Pak Ruhut. Karena begitu kenal dia sudah berani merayuku untuk main main kemessnya. Karena orangnya ganteng dan gagah, suatu kali aku mau juga datang ke messnya. Di messnya tidak ada orang hanya dia saja, aku langsung digiringnya kekamar dan langsung diciumi serta dibuka t shirt ku. Mulutnya ganas sekali menciumi buah dadaku, namun kularang dia untuk mencupang buah dadaku, karena aku sungkan dengan pak Ruhut. Aku juga terkesiap ketika melihat kemaluannya yang tidak terlalu panjang tetapi gemuk dan bersih sekali itu. Aku senang sekali mengulumnya, sayang sekali Kirno meskipun perwira muda, tapi dalam soal seks dia masih bau kencur, baru beberapa kali kusedot, dia sudah menumpahkan air maninya. Dalam hati aku tertawa, karena dia jadi merah padam mukanya karena begitu cepat selesai. Namun dengan telaten aku rangsang lagi Kirno serta secara sengaja kusodorkan vaginaku kewajahnya sehingga dia mulai menciumi dan mengorek ngorek vaginaku yang dengan cepat membuatnya kembali berdiri. Dengan ganas dia meneindih tubuhku serta memasukkan kemaluannya kedalam liang vaginaku, aku yang sudah merasakan geli serta gatal memenuhi liangku langsung saja menggoyang pantatku, namun gerakanku itu langsung membuat Kirno menyemburkan air maninya untuk yang kedua. Aku menggigit dadanya dengan penuh rasa kecewa, tapi aku tak mau menunjukkan kekecewaanku ini, aku hanya tersenyum. Setelah itu aku langsung mengenakan pakaianku lagi dan bergegas pulang. Kalau kuingat semua tingkahku saat itu, aku merasa malu, karena demikian murah aku mau ditiduri oleh sekian banyak perwira muda yang lucunya rata rata kurang pandai memuaskan aku. Aku merasa seperti piala bergilir yang dengan mudah diajak mereka untuk memuaskan nafsu mereka. Kebiasaan ini terus kubawa sampai aku pindah kerja kesebuah kantor BUMN.

Perwira lain yang sempat menikmati tubuhku adalah Hari, penghuni mess tempat Pak Ruhut meniduri aku. Malam itu setelah pak Ruhut main dengan aku, dia tergesa gesa pulang, seperti biasanya dia tak pernah mau mengantar aku, jadi ketika dia pulang aku masih sempat berbincang bincang dengan Hari, yang tanpa sungkan sungkan mengajak aku masuk lagi. Aku hanya menurut saja sehingga malam itu aku main dengan dua pria, suatu hal yang belum pernah aku alami, Hari memiliki kemaluan yang tak terlalu besar, tapi dia sangat pandai menjilat sehingga aku dapat merasakan kenikmatan juga. Yang membuat aku kuatir adalah cepatnya Hari ini tegang lagi. Malam itu aku meninggalkan messnya sekitar pukul 9 malam, dia sempat menyetubuhi aku sampai 4 kali, meskipun hanya satu kali yang benar benar membuat aku orgasme.

Ketika hal ini aku ceritakan pada bossku, dia terkejut sekali melihat kenekadanku ini. Dia berkata, memang aku ini nafsunya besar, karena badanku agak bungkuk. Aku hanya tertawa dan perasaanku membenarkan ini semua, entah mengapa senjak pertama kali aku mengenal laki laki, nafsuku selalu menggebu gebu, aku selalu mencari kesempatan untuk merasakan batang kemaluan lelaki yang aku kenal. Tapi sayangnya tidak semua pria berhasil memuaskan aku sampai saat ini hanya beberapa yang berhasil membuat aku puas yaitu : suamiku sendiri; bossku; pak Ruhut dan Prima, selain mereka ini aku hanya sekedar memberi mereka kepuasan dan bukan mendapat kepuasan dari mereka.

Ada sedikit kejadian yang memalukan sehubungan dengan Heri yang "nunut" meniduri aku itu. Dua hari kemudian aku sempat main lagi dengan Hari dirumahnya, ini semua memang aku sengaja karena aku kencan dengan pak Ruhut jam 19:30, tetapi aku sengaja datang jam 18:00 supaya aku ada kesempatan main dengan Hari. Ternyata akalku ini berhasil baik, selesai main dengan Hari, aku cepat cepat membersihkan diri dan duduk manis. Pak Ruhut sama sekali tidak curiga dan kamipun berhubungan seperti biasanya.

Esok lusanya, siang siang pak Ruhut mampir kekantorku dan minta ijin untuk berbicara sebentar. Aku keluar dan menemui dia di food centre. Aku sangat terkejut ketika pak Ruhut memberitahu bahwa dia kena "kencing nanah", dengan agak marah pak Ruhut menanyakan aku hubungan dengan siapa saja, karena sejak main dengan aku dia tidak pernah main dengan siapapun. Aku mati matian tidak mengaku, dan mengatakan kalau hanya main dengan dia saja. Akhirnya pak Ruhut hanya menyuruh aku untuk periksa dokter saja.

Aku langsung curiga pada Hari, karena aku tahu Hari memang jago perempuan, dalam hati aku bersumpah nggak mau lagi main dengan dia. Sore itu aku kedokter dan berpura pura kurang enak setelah berhubungan dengan suami. Oleh dokter aku disuntik dan diberi resep yang rupanya antibiotik, sampai saat ini aku tak mengerti apakah memang aku kena penyakit kotor dan menulari pak Ruhut atau memang pak Ruhut sendiri yang lagi lemah sehingga bakteri yang udah lama tidur dalam badannya kembali aktif ? Yang pasti aku jadi lebih hati hati bermain main, meskipun aku tidak pernah memakai kondom untuk pengamanan.

Selain dua perwira ini masih ada dua perwira muda yang sempat aku "beri" dan satu orang perwira menengah teman Pak Ruhut, yang jadi komandan pangkalan diluar Jawa. Aku dikenalkan pak Ruhut dengan Pak Piet ( nama Pamen itu ) disupermarket tempat kerjaku. Lalu malam itu pak Piet mengajak aku ke diskotik, aku sudah mengerti apa maunya Bapak satu ini, jadi aku ok saja. Didalam diskotik kita hanya duduk duduk saja sambil berbincang bincang kesana kemari, dia tak melakukan sesuatu yang membuat aku terangsang, hanya makin lama duduknya makin merapat dan memeluk aku. Sampai akhirnya dia mengajak aku kehotel. Dalam jeep tangan pak Piet mulai meraba raba pahaku serta meremasnya, bahkan jari jarinya mencoba untuk menyelinap kedalam celana dalamku, tapi usahanya ini kurang berhasil karena aku memakai celana dalam yang ketat serta aku tak berusaha untuk membantu usahanya ini. Dia memindahkan operasinya kebuah dadaku, dimasukkannya tangannya kedalam blouseku dan tangannya yang kasar itu menyelinap kedalam behaku serta meremas buah dadaku. Aku menggelinjang karena remasan oleh tangan yang kasar membuat aku geli dan terangsang. Ketika malam sudah larut dan dia mengajak aku pulang, aku sebenarnya agak heran, kok dia tahan untuk nggak "main", ternyata dugaanku itu keliru, diatas mobil dia terang terangan mengajak aku untuk masuk kamar hotel. Aku hanya tersenyum saja, bagi aku bukan sekedar kenikmatan yang aku cari, tetapi juga avonturisme, merasakan macam macam pria, hatiku penuh rasa ingin tahu, bagaimana sih mainnya orang ini atau orang itu. Kalau sudah dikamar, aku biasanya selalu berusaha agar lawanku cepat selesai, rasanya bangga karena berhasil memuaskan seorang pria dengan cepat ( meskipun aku sendiri harus repot menahan nafsuku sendiri yang belum kesampaian ).

Pak Piet pun kubiarkan saja melepasi seluruh pakaianku sementara bibirnya terus melumati buah dada serta badanku dengan jilatan jilatan ringan. Aku menggeliat geliat merasakan permainan lidahnya yang hangat itu, apalagi bila dipakai untuk mengulum puting buah dadaku yang sudah tegang itu. Meskipun sudah berusia diatas 40 tahun, badan Pak Piet masih kekar dan tegap, kalau kemaluannya sih aku kira average saja. Ketika dia sudah telanjang bulat aku diam saja diatas tempat tidur, tanpa basa basi dia langsung naik keatas tempat tidur dan mulai menjilati vaginaku. Dengan tangan kirinya Pak Piet menguakkan bibir vaginaku dan menyelusupkan lidahnya kedalam liangku, terasa hangat sekali lidah yang basah dengan liur menggelitik dinding vaginaku terutama dibagian kelentitnya, tapi yang membuat aku terus terusan menggelinjang adalah tangan kanan Pak Piet, karena jari Pak Piet ternyata dimasukkan keliang anusku, aku merasakan sensasi yang luar biasa sekali. Entah apa yang membuat jari Pak Piet yang masuk keanusku tidak menimbulkan rasa sakit, mungkin dilumuri dengan cairan vaginaku sehingga lancar masuk keliang yang kecil itu. Aku saat itu tak perduli, aku benar benar terangsang, namun aku masih sungkan untuk menunjukkan gairahku pada Pak Piet karena baru sekali ini aku kontak dengan dia. Jadi aku malu untuk ikut merangsang tubuhku dengan memilin puting buah dada yang biasa aku lakukan kalau nafsuku naik. Aku hanya diam saja sambil mendesis pelan serta mencengkeram sprei. Rupanya Pak Piet juga sudah tak tahan, dia berhenti mencumbu aku dan langsung menindih badanku serta mengarahkan penisnya keliangku, ketika kurasakan penis Pak Piet sudah masuk diliangku, aku langsung mencari kepuasanku sendiri. Aku lingkarkan kakiku dipantatnya dan aku putar pantatku seupaya kemauan Pak Piet menggosok seluruh dinding vaginaku dan menyentuh bagian leher rahim yang sangat nikmat itu. Begitu aku goyang, Pak Piet langsung menggigit puting susuku, mulutnya mendesis pelan sambil meminta supaya aku tidak menggoyang lagi, karena dia tak tahan dengan rasa gatal dan geli yang dirasakannya. Aku menurut dan menghentikan gerakanku, saat itu Pak Piet membisikkan ketelingaku, apakah aku mau mencoba anal seks, aku hanya diam saja sambil tersenyum, rupanya isyaratku ini dimengerti oleh Pak Piet dia langsung mencabut penisnya dan menyuruh aku menungging. Setelah aku menungging, pak Piet menjilati liang duburku dengan lidahnya serta membasahinya, baru setelah itu ia menempatkan ujung penisnya keliang anusku, begitu ujung penis Pak Piet menguak liang anusku, aku merintih karena terasa perih sekali. Ini pengalaman pertamaku merasakan penis pria memasuki liang anusku, rasanya ingin aku meminta Pak Piet untuk mencabut lagi penisnya, tapi ketika dengan lembut Pak Piet menyuruh agar aku relax dan tidak mengejan, barulah kurasakan nikmatnya gesekan batang penis dengan sphincter yang melingkari anusku. Ketika sudah masuk seluruh penis Pak Piet, tangan pak Piet juga ikut menggosok gosok kelentitku, karena jari jari pak Piet kurasa kurang trampil merangsang kelentitku, maka aku sendiri yang menggosok kelentitku dengan jariku sendiri. Aku memejamkan mata berkonsentrasi merasakan kegelian yang berkumpul diujung kelentitku sementara Pak Piet asyik memaju mundurkan penisnya diliang duburku. Ketika pak Piet tiba tiba melenguh dan menyemprotkan cairan hangat didalam duburku, aku tahu kalau dia sudah selesai. Saat itulah aku mendadak jadi kuatir kalau kalau nantinya penis pak Piet penuh kotoran dari duburku. Namun aku tak sempat untuk melihatnya, karena begitu mencabut penisnya, Pak Piet langsung kekamar mandi dan membersihkannya sendiri disana, rupanya dia sudah pengalaman dalam hal ini. Akupun tak meneruskan masturbasiku, karena aku malu, jadi aku menunggu pak Piet yang masih dikamar mandi, kurasakan pantatku panas sekali serta perih, akibat tusukan penis pak Piet yang meskipun tidak terlalu besar tetapi pertama kalinya aku alami.

Ketika Pak Piet kembali ketempat tidur, dia tampak tersenyum puas katanya aku pandai melayani dia, aku hanya tersenyum saja. Sampai kami pulang sekitar pukul 11 malam, pak Piet tidak meniduri aku lagi, dia hanya membantu aku memuaskan diri dengan menjilati vaginaku. Penisnya sendiri sudah mati tak mau bangkit lagi, dan akupun tak mau membantunya untuk membuat berdiri.

Dari berbagai pengalamanku menghadapi pria yang tertarik padaku dan aku mau ditiduri, ternyata banyak yang mengecewakan, akupun tidak tahu dengan jelas apa motivasiku sampai aku mau ditiduri, diperlakukan seperti pelacur ( padahal semuanya ini "for free" )apakah mungkin sekedar avonturir atau memang ini adalah kesenanganku ?

Pekerjaanku di supermarket terasa makin lama makin membosankan, karena aku merasakan kalau bu Indra sebenarnya tidak punya job yang tepat buat aku, terkesan kalau dia hanya sungkan pada bossku sehingga dia menempatkan aku dibagian yang seadanya ( meskipun aku dibayar bagus juga ) Perasaan ini pernah aku ungkapkan pada bossku ketika dia "ngeloni" aku dan dia tidak bisa berkomentar banyak, dia malahan menyarankan apa tidak sebaiknya aku berhenti bekerja saja dan dipelihara dia. Aku hanya tertawa mendengar tawarannya ini, tak pernah terbayang dalam pikiranku untuk dipelihara seorang laki laki. Dalam beberapa dialog konsultasi akhirnya bossku tidak berkeberatan bila aku berhenti dari supermarket dengan catatan aku sudah menemukan batu loncatan lain.

Dengan bantuan seorang teman, aku bisa bekerja disebuah perusahaan BUMN sebagai tenaga honorer. Meskipun gajiku tak sebesar disupermarket, tetapi aku merasakan suasana yang pas dengan back ground pendidikanku, sayangnya tempat kerjaku bukan di Yogyakarta tetapi di Klaten. Hal ini menyebabkan aku harus pulang pergi Yogya ~ Klaten setiap hari dan belakangan aku memutuskan untuk kost saja di Klaten agar tidak membuang tenaga terlalu banyak.

Semua teman dekatku baik itu pak Ruhut, bossku ikut senang dengan kepindahanku ini, aku juga keluar dengan baik baik dari supermarket dan diberi uang ekstra yang cukup juga ( belakangan aku dapat info dari temen kalau uang itu sebenarnya uang dari bossku sendiri )

Meskipun aku bekerja di Klaten, hubungan seks ku dengan pak Ruhut masih berlangsung dengan rutin, sedangkan hobby avonturirku jadi berubah, karena banyak teman pria dikantorku yang mulai melirik dan menggoda aku, salah satunya adalah Anang. Anang bekerja dikantorku sebagai tenaga teknisi, dia sudah berkeluarga dan tinggal di Yogyakarta. Karena itulah dia seringkali menawarkan jasa baik untuk mengantar aku pulang, yang tentu saja tidak kutolak. Sejak awal dia sudah menunjukkan sikap genit kepadaku, dan aku bersikap pro aktif saja, saat dikantor dia selalu bersikap sepertinya nggak ada apa apa, tetapi begitu dimobil kegenitannya mulai dikeluarkan. Sepanjang perjalanan Klaten Yogya rayuannya dan ceritanya membuat aku merinding sendiri, begitu bangga dia bercerita kalau dia jadi rebutan cewek. Diapun berani merangkul serta meraba pahaku, sampai mungkin sudah tak tahan dia menghentikan mobilnya ditempat yang sepi dan menciumi serta meremas remas badanku dengan penuh nafsu. Dengan berbisik dia bertanya kepadaku apakah aku masih perawan, pertanyaan ini tak kujawab dengan jelas, hanya tanganku yang langsung meremas kemaluannya sebagai jawaban. Terus terang suasana seperti ini, didalam mobil ditempat umum serta rangsangan pada buah dadaku membuat aku jadi bergairah, aku sudah siap untuk berpacu. Melihat reaksiku Anang segera menarik behaku keatas sehingga buah dadaku menyembul keluar yang langsung diciuminya serta dikulum dengan penuh nafsu, sementara tanganya yang lain meraba raba bukit kemaluanku dan jarinya menyelinap masuk kedalam liang vaginaku. Aku hanya berbisik pada Anang agar bekerja lebih cepat, karena aku kuatir ada yang memergoki kami. Saat itu memang sudah agak gelap dan tempat kami berhenti didekat kebun tebu sehingga cukup sepi. Setelah merubah posisi tempat dudukku, Anang segera membuka celananya dan memelorotkannya sehingga kemaluannya menyembul keluar. Aku tertegun melihat penis Anang yang benar benar panjang tetapi kurus dan melengkung itu. Aku yakin penis itu lebih panjang dari punya Prima tetapi kalah gemuknya. Kutaksir sekitar 20 sentimeteran, yang membuatnya jadi lucu adalah penis itu melengkung keatas. Begitu siap Anang langsung menindihi aku dan langsung penisnya dibenamkan didalam liangku. Baru saja aku melingkarkan kakiku dipantatnya, Anang sudah mendesis dan kurasakan liang vaginaku banjir dengan spermanya. Permainan seks ku dengan Anang bukan sesuatu yang aku sukai, tetapi entah mengapa aku mau saja diajaknya main main seperti ini. Kelakuannya makin menjadi jadi setelah peristiwa dimobil ini, dia bahkan berani mengajak aku make love diruang kerjanya. Saat itu sedang jam istirahat, diajaknya aku masuk keruang kerjanya yang penuh dengan mesin mesin, setelah mengunci pintu dia langsung mengeluarkan penisnya yang sudah tegang itu, aku sebenarnya selalu merasa geli melihat penis Anang yang kecil panjang dan bengkok itu, tetapi aku tak berani tertawa didepannya. Aku menceriterakan hal ini pada bossku dan bossku juga ikut tertawa terbahak bahak. Tanpa basa basi dia merengkuh aku dan menurunkan celana dalamku, kami main dalam posisi duduk Anang duduk dikursi dan aku duduk dipangkuannya sambil berhadapan, terasa perih ketika penis Anang memaksa masuk kedalam vaginaku yang masih kering itu, tetapi karena mungkin penis Anang kecil maka akhirnya masuk juga. Karena posisi ini posisi favoritku maka dengan mudah aku terangsang, apalagi Anang dengan aktif menciumi buah dadaku serta mengulum putingnya. Penis Anang memang keras sekali sehingga ujungnya yang bengkok bisa membuat dinding vaginaku seperti digaruk dengan benda tumpul, ketika gerakanku mulai liar, Anang menahan tubuhku karena dia kuatir kalau cepat selesai, tapi aku udah nggak perduli, kugigit dadanya dan kuteruskan gerakanku naik turun yang membuat liang vaginaku yang licin menyelusuri batang penisnya itu, aku merasakan puncakku hampir tiba dan benar saja vaginaku berkontraksi dengan keras sekali, Anang sendiri rupanya juga mencapai puncaknya, bersamaan dengan orgasmeku. Aku memeluk Anang erat erat dan kuciumi wajahnya serta kugigiti pundaknya, aku tak perduli meskipun ketahuan isterinya.

Next >>